sayang kalian guys... :)

sayang kalian guys... :)

Halaman

Senin, 27 September 2021

Vaksinasi Covid19

 Haiiii.. akhirnya gue mencoba menyisihkan waktu untuk menulis blog ini hheheh.. Btw covid 19 di Indonesia sudah hampir 2 tahun guys dari gue nulis postingan ini. Banyak banget yang berubah di dunia ini karena pandemi covid 19. Dari kebiasaan, sampai dengan peraturan. Kebiasaan yang baru yaitu pakai masker kalau kemana-mana dan cuci tangan atau pakai handsanitizer. Trus kalau peraturan yang baru sih warga diminta untuk melakukan VAKSIN Covid 19. Ada berbagai macam nama vaksin di Indonesia. Vaksin ini juga dikeluarkan secara bertahap dan yang pastinya ke yang lebih membutuhkan dari segi resiko kerja seperti tenaga kesehatan dan dari segi usia yaitu orang tua/lansia. So, yang pertama dikejar adalah itu. 


Jenis vaksin awal-awal muncul yang gue tau adalah SINOVAC atau dikenal dengan nama CoronaVac. Ini seinget gue masuk Indonesia pas Maret 2021 deh. Vaksin ini berasal dari China. CoronaVac merupakan vaksin yang mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif. Vaksin ini sudah melewati uji klinis fase ketiga yang dilakukan di Brazil, Turki, dan Indonesia. Uji klinis fase ketiga di Indonesia menunjukkan nilai efikasi vaksin, yaitu efek perlindungan terhadap COVID-19, sebesar 65,3% (sumber : Alodokter). Vaksin jenis ini diberikan sebanyak 2x dengan masa tenggang waktu diberikan dari vaksin dosis satu ke vaksin ke dosis dua yaitu selama 28 hari. Namun info yang terbaru (sekitar bulan Juli 2021), kalau ada yang divaksin jenis Sinovac harus ada booster (vaksin ke-3) tapi dengan jenis berbeda. Mungkin supaya lebih kuat kali yaa. Nah hal ini sudah dilakukan ke tenaga kesehatan.

Heboh banget tuh awal-awal muncul trus orang-orang pada berburu vaksin deh sampe ngantri-ngantri. Gue dan sekeluarga yang kala itu baru beberapa lama abis sembuh covid, gatau kenapa ga merasa tertarik hahaha, mon maaf. Mungkin karena merasa 'alumni covid' jadi gue kira daya tahan tubuh dan antibody kuat. Tapi emang sih ada peraturan, yang baru sembuh covid atau negatif covid diharuskan menunggu minimal 3 bulan baru bisa vaksin. So, gue tenang-tenang aja.

Setelah adanya vaksin jenis Sinovac, yang gue tau ada lagi namanya Sinopharm. Ini sih katanya 'abangnya' Sinovac. Berasal dari China juga. Vaksin Sinopharm berisi virus Corona yang dimatikan (inactivated virus). Dari hasil uji klinis tahap ketiga yang dijalankan oleh Sinopharm di China, vaksin BBIBP-Corv dikatakan memiliki nilai efikasi, yaitu efek perlindungan terhadap COVID-19, sebesar 79,34%. Jumlah ini sudah melampaui standar efikasi minimal yang ditetapkan oleh WHO, yaitu sebesar 50% (sumber : Alodokter). Vaksin jenis ini diberikan sebanyak 2x dengan masa tenggang waktu diberikan dari vaksin dosis satu ke vaksin ke dosis dua yaitu selama 21 hari.

Setelah kedua jenis vaksin tersebut, muncul lagi jenis vaksin Astrazeneca. Vaksin AstraZeneca berasal dari virus hasil rekayasa genetika (viral vector). Vaksin AstraZeneca untuk COVID-19 telah menjalani uji klinis di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan. Vaksin ini memiliki nilai efikasi (efek perlindungan terhadap COVID-19) sebesar 63,09% (sumber : Alodokter). Nah jenis vaksin ini kebanyakan diperuntukkan untuk warga yang berusia 18-59 tahun. Untuk KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) atau efek setelah diberikan vaksin jenis Astrazeneca ini infonya lebih berat daripada vaksin jenis Sinovac maupun Sinopharm. Contohnya seperti demam sampai beberapa hari, pegal-pegal, mual, dll. Tapi tergantung tubuh seseorang yaa. Kalau tubuhnya kuat, yang pasti sih tidak parah. Vaksin jenis ini diberikan sebanyak 2x dengan masa tenggang waktu diberikan dari vaksin dosis satu ke vaksin ke dosis dua yaitu selama 3 bulan. Tenggang waktu ini adalah tenggang waktu terlama dibanding dengan vaksin lain. 

Nah pas vaksin Astrazeneca muncul, gue mulai muncul kemauan untuk divaksin, tetapi belum pede. Entah mengapa. Gue merasa toh belum bepergian kemana-mana kok, jadi mungkin bisa vaksin nanti-nanti saja. Yaudah akhirnya gue belum vaksin. Qodarullah ternyata suami gue kena covid (lagi) di bulan Juli 2021. So, yaudah kita mundur lagi deh vaksin.

Berawal dari temen kantor gue beberapa orang kena covid, alhasil kerjaan pun dibawa ke rumah (WFH = Work From Home) selama beberapa minggu. Lalu, ternyata di kantor suami gue pun ada beberapa orang yang kena covid alhasil WFH juga. Melihat angka kenaikan covid yang tinggi lagi di daerah Jakarta bahkan Indonesia, akhirnya diberlakukan lagi peraturan yang bernama PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Ini mirip-mirip PSBB di awal Covid. Nah ketika PPKM lah gatau gimana, suami gue malah kena covid. Dan si covidnya juga berkembang ada varian baru seperti varian delta, yang mana gejala nya lebih parah daripada varian awal. 

Jadi suami gue emang merasa gak enak badan sudah 2 hari. Rasanya badan pegal-pegal dan linu. Hari ke-3 nya mulai demam dan panas banget badannya. Gue sempet pegang badannya bener-bener panas. Alhasil kami pisah kamar. Merasa sudah enakan badannya, dia minta temenin gue ke supermarket deket rumah untuk beli deodorant dan parfum. Nah pas lagi coba-coba nyium itu deodorant dan parfum, ternyata dia tidak merasakan wangi apa-apa. Ini lah percakapan antara gue dan dia.

 Suami : Bubu, kamu coba cium ini enak ga wanginya?
 Gue : enak-enak aja kok
 Suami : kok aku ga merasa wangi apa-apa yaa?
 Gue : .............?

Langsung lah gue pulang, dan meminta dia untuk melakukan Rapid Test Antigen, dan hasilnya adalah POSITIF Covid. Yaudah akhirnya segala kebutuhan suami gue harus gue siapin. Yaudah kejadian Januari 2021 lalu keulang lagi. Tapi yang saat ini memang lebih banyak drama sih, mungkin karena kayaknya suami gue kena yang varian delta. Gue? alhamdulillah gue aman. Pokoknya asalkan bisa menjaga jarak, dipisahkan segala macam kebutuhan dan perlengkapannya, menjaga kebersihan, insya Allah aman. Hampir 3 minggu terpapar covid, akhirnya pas SWAB PCR terakhir, hasilnya sudah negatif.

Setelah itu, PPKM yang berjalan di beberapa wilayah, pelan-pelan dilonggarkan, dari PPKM darurat, PPKM biasa, PPKM level 4, sampe level 3, akhirnya pemerintah minta warga untuk cepat-cepat melaksanakan vaksinasi. Jadi beberapa tempat yang kira-kira akan banyak kedatangan orang seperti mall, gedung-gedung, tempat makan, swalayan, tempat rekreasi, pelan-pelan dibuka tetapi harus menunjukan kartu vaksin. Di kantor gue pun diharuskan vaksin. Tapi gue tetep belum percaya diri untuk vaksin.

Sampe akhirnya ada jenis vaksin baru muncul yaitu Moderna. Moderna ini masih sedikit dosisnya dan didahulukan untuk booster atau vaksin ke-3 nya tenaga kesehatan yang sudah dulu melakukan vaksin Sinovac. Yaudah gue nunggu aja. Gue kepengen pakai vaksin ini. Trus gue coba caritau KIPI atau efek setelah vaksin, tapi ternyata dari sekian orang kenalan gue yang sudah vaksin Moderna, mereka merasa efeknya lebih parah dibandingkan Astrazeneca. Ada yang sampai dibawa ke RS ada pula yang sampai demam berhari-hari. Gegara gue denger ginian, jadi ngeri coba vaksin Moderna hahahah. Padahal kan beda-beda ya tubuh tiap orang. Gue udah kemakan kabar berita. So, akhirnya gue menunda lagi waktu vaksin.

Btw, informasi sedikit tentang vaksin jenis Moderna yaitu  jenis vaksin mRNA (messenger RNA). Vaksin ini tidak menggunakan virus yang dilemahkan atau dimatikan, melainkan menggunakan komponen materi genetik yang membuat sistem kekebalan tubuh memproduksi spike protein. Protein tersebut merupakan bagian dari permukaan virus Corona. Dari uji klinis yang sudah dilakukan, vaksin ini menunjukkan nilai efikasi, yaitu efek perlindungan terhadap COVID-19, sebesar 94,1% (sumber : Alodokter). Vaksin jenis ini diberikan sebanyak 2x dengan masa tenggang waktu diberikan dari vaksin dosis satu ke vaksin ke dosis dua yaitu selama 28 hari.

Setelah itu, gue merasa sepertinya gue musti cepet-cepet vaksin nih, yaudah akhirnya gue coba membulatkan tekad untuk pilih vaksin Astrazeneca. Gue coba-coba lah cari tau bagaimana mendaftarnya. Ternyata untuk wilayah Jakarta untuk daftar vaksin sangat-sangat mudah lhoo. Tinggal download aja aplikasi JAKI, dijamin langsung bisa daftar dari aplikasi tersebut dan tinggal tunggu hari H untuk vaksin. Trus yaudah gue sih masih lihat-lihat aja, belum gue accept

Trus gue juga mau daftarin nyokap gue vaksin jenis Sinovac. Kebetulan klinik dekat rumah gue menyediakan itu. Gue merasa Sinovac bisa untuk orang tua, karena kan awal mula vaksin ini muncul, lebih diperuntukkan untuk lansia dan tenaga kesehatan.  Akhirnya gue daftarin nyokap untuk tanggal 31 Agustus 2021. So, tanggal tersebut kudu datang lagi deh. Gimaa dengan bokap? Nah karena bokap gue sempet mengalami long covid, jadi harus dapat surat rekomendasi dulu nih dari dokternya. Berhubung tanggal 31 Agustus 2021 masih seminggu lagi, yaudah gue tungguin deh. Selama gue nungguin ini pun gue belum merasa pede untuk divaksin. Entah mengapa ada rasa penolakan di badan gue. 

Gue lihat berita, ternyata akan datang vaksin jenis baru yaitu Pfizer. Gue cari tau lah informasi mengenai vaksin tersebut dan inilah yang gue dapat. Vaksin Pfizer adalah vaksin mRNA (messenger RNA). Jenis vaksin ini akan memicu sistem sistem kekebalan tubuh membentuk spike protein. Berdasarkan uji klinis tahap III yang dilakukan di Amerika Serikat, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brazil, dan Argentina, vaksin Pfizer memiliki nilai efikasi, yaitu efek perlindungan terhadap Covid19 sebesar 95% (sumber : Alodokter). Vaksin jenis ini diberikan sebanyak 2x dengan masa tenggang waktu diberikan dari vaksin dosis satu ke vaksin ke dosis dua yaitu selama 21 hari.

Setelah ada informasi itu, akhirnya gue pede. Gue cari tau di akun instagram @dinkesdki dimana saja yang sudah menyediakan vaksin jenis Pfizer ini. Gue juga sengaja cari tau di satu tempat tersebut harus yang hanya menyediakan vaksin jenis Pfizer bukan yang lain, kenapa? karena menghindari kalau tiba-tiba gue udah ngantri lama eh ternyata yang disuntik jenis lain. Yaa gapapa sih, tapi gue pedenya vaksin jenis ini kan. Walaupun kata orang-orang sama saja jenis vaksin yang satu dengan lainnya, tapi tetap aja gue ga pede kalau buat tubuh sendiri. Entah mengapa.. Selain itu yang gue tau, kan vaksin jenis ini sudah diterima dan direkomendasikan di berbagai negara, siapa tau gue bisa keluar negeri dan si negara tersebut lebih menerima gue yang sudah di-vaksin jenis Pfizer ini. 




Nah gue dapat gambar diatas dari instagramnya @dinkesdki. Yaudah gue coba aja daftar melalui aplikasi JAKI sesuai dengan informasi di foto itu. Ternyata cepet banget full nya. Gue inisiatif untuk mendaftar pada jam-jam yang orang lain gak sibuk internetan, gue coba daftar di jam 06.30 pagi, gue berpikir kan orang-orang pada berangkat kerja donk jam segini, ga mungkin mereka mainan internet haha, dan hasilnya gue bisa ngedaftarin 4 orang (termasuk gue). Alhamdulillah.. Tadinya kan nyokap gue udah gue daftarin Sinovac, akhirnya gue daftarin juga Pfizer, maksudnya biar sekalian jalan. 

Gue dapat jadwal vaksin jenis Pfizer dosis ke-1 untuk tanggal 31 Agustus 2021 jam 11.00 WIB di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kemudian untuk vaksin dosis keduanya yaitu tanggal 21 September 2021. Nah kalau vaksin kedua ini ternyata mendaftarnya gak dari aplikasi JAKI lagi, tapi bisa langsung datang saja ke Gd. Judo Kelapa Gading. 

Okee ini dia foto vaksin pertama dan kedua :
Perjalanan ke Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Alur Layanan Vaksin

Ngantri masuk untuk vaksin jam 11.00 WIB

Menunggu dipanggil untuk pendaftaran ulang

creening dengan cek tensi darah dan ditanya riwayat sakit

Suntik Vaksin

Foto berduaaa (pas vaksin ke-2)

Bagaimana dengan KIPI/efek setelah vaksin? 

Waktu vaksin dosis ke-1 gue merasa tangan kiri gue (tangan yang disuntik) ngilu dan pegal. Mulainya tuh sore setelah gue bangun tidur siang, haha. Semakin malem, rasanya semakin pegal dan refleks aja kalau ada orang yang mau nyentuh gue langsung menghindar atau 'senggol bacok'. Ini berlangsung sampai besokannya. Sehingga gue minta izin ga masuk kantor untuk istirahat di tanggal 1 September 2021 nya. Selain pegal-pegal, gue merasakan ngantuk dan lapar terus. Padahal gue abis makan, terasanya lapar. Begitupun dengan suami gue, gejala nya sama.

Untuk KIPI/Efek vaksin dosis ke-2 gue tetep merasa tangan kiri gue (tangan yang disuntik) ngilu dan pegal juga, tapi ga separah waktu dosis ke-1. Jadi kalo sekarang, tangan kiri di keatasin masih bisa, ga kayak waktu vaksin dosis ke-1 bener-bener pegel kayak abis ditonjok (tapi ga biru-biru). Trus selain tangan pegel, gue merasa pas malam antara maghrib dan isya, dada sebelah kiri gue tuh kayak ditusuk 'Nyuuuut..' gitu tapi gak lama sih. Karena setelah gue merasa ga enak, gue langsung makan aja nambah tenaga (padahal gue makan terus lhoo). Alhamdulillah gak lama hilang sakit nya. Truss di vaksin dosis kedua ini gue juga merasakan lapar dan ngantuk tapi masih bisa dikendalikan. Kalau pas dosis pertama besokannya gue minta izin ga masuk kantor karena tangan pegal, nah kalau pas dosis kedua ini alhamdulillah besokannya gue bisa masuk kantor. 

Nah setelah vaksin dari dosis ke-1 ini kita juga bakal dapat sertifikat vaksin yaa, ini juga berguna untuk masuk ke kawasan yang ramai orang seperti mall, gedung-gedung, tempat rekreasi, bahkan tempat lainnya. Unduh sertifikatnya bisa dari aplikasi PeduliLindungi. Jadi setiap handphone harus ada aplikasinya. Bagaimana dengan yang gak punya handphone? Oh bisa juga kok download dari website-nya PeduliLindungi kemudian bisa di print dan jangan lupa diperkecil yaa ukurannya (bisa se-KTP) jadi biar bisa dibawa kemana-mana. Di kartu/sertifikat tersebut ada barcode nya kok yang juga otomatis ada NIK peserta yang sudah divaksin, jadi gak mungkin bisa membohongi. 

Walaupun sudah divaksin, tetapi tetap harus menjaga prokes (protokol kesehatan) yaa, supaya tetap bisa terlindungi dari bahaya virus-virus. ;)

Tidak ada komentar: