Halaman

Jumat, 10 Mei 2019

Tempat Tinggal Kami

 Pernikahan itu berarti sama seperti memulai hidup dari NOL. Kalau diibaratkan manusia, ya seperti bayi yang baru dilahirkan, dia ga bisa ngapa-ngapain selain nangis dan nyusu, harus belajar dahulu. Sama kayak gue dan mas Ian mesti belajar dari awal, belajar adaptasi tinggal bareng, belajar patuh (khususnya gue ke Mas Ian sebagai suami gue), dan belajar jadi istri solehah. Hehehhe.


Salah satu hal yang mesti dipikirkan jika sudah menikah adalah tempat tinggal.
Mau beli rumah, ngontrak, atau gimana yaaa?

Alhamdulillah Allah kasih jalan. Bokap nyokap gue menghibahkan salah satu rumahnya ke gue dan Mas Ian. Posisi rumah yang diberikan yaitu berdekatan dengan rumah bokap dan nyokap. Berhubung gue anak bontot atau anak terakhir jadi insya Allah orang tua gue masih mau berdekatan dengan gue. Tetapi semua tergantung Mas Ian karena beliau suami gue. Istri kan ikut suami ajah.

Akhirnya gue coba konfirmasi dahulu ke Mas Ian, beliau berkenan apa engga kalau mesti tinggal dekat dengan orang tua gue di Jakarta Timur, atau apakah mau beli rumah yang semampunya kami (di Jakarta atau di luar Jakarta)?

Ternyata Mas Ian memilih untuk tinggal di rumah yang bokap-nyokap gue hibahkan ke kami. Rumahnya emang rumah jadul, hampir 35 tahun sudah berdiri disini, jadi kalau gue dan Mas Ian tinggal disini ya memang harus direnovasi aja. Luasnya juga gak besar sih tapi bersyukur aja kan sudah ada rumah. Yaudah Mas Ian akhirnya memberikan ide cemerlang yaitu merenovasi rumah tersebut.

Hal yang dipikirkan Mas Ian kenapa mau tinggal disini adalah :
1. Rumah ini terletak di Jakarta Timur perbatasan dengan Jakarta Pusat (lumayan strategis karena dekat dengan jalan tol, bandara, dan stasiun)
2. Kalau kami membeli rumah di tengah kota, kemungkinan pasti mahal sekali (belum sanggup) jadi paling engga di pinggir/luar Jakarta. Nah kalau gue punya rumah jauh dari Jakarta (pinggir Jakarta) itu berarti jauh dari rumah orang tua gue. Mas Ian ini kan kerjanya sering dinas ke luar kota kemungkinan gue akan sering ditinggal sendiri, jadi dia merasa kasihan kalau gue jauh dari orang tua atau saudara. So, akhirnya mas Ian memutuskan untuk tinggal di rumah hibahan dari bokap-nyokap gue dan akan kami renovasi. Mungkin someday kalau memang ada rezeki lagi, pasti kami akan membeli rumah di tempat lain untuk investasi maupun tempat tinggal. Aamiin yra.

Kok bokap nyokap baik banget ngasih rumah ke gue?
Iya Alhamdulillah, semua anaknya dikasih sama bokap nyokap gue. Kata beliau, harta gak di bawa mati jadi tabungan beliau (disini maksudnya rumah) yaa rata dibagikan ke anak-anaknya.

Anyway...

Setelah kemarin sempat promil tetapi belum berhasil, akhirnya gue dan Mas Ian fokus ke tempat tinggal. Akhirnya uang tabungan kami yang sudah ada, kami pergunakan dengan semestinya, semoga berkah. Memang belum banyak sih, makanya kami sampai meminjam uang untuk membangun rumah ini ke kantor Mas Ian. Kenapa ke kantor Mas Ian? Karena gak berbunga hehehe, insya Allah gak ada riba. Mas Ian akan membayar cicilannya dengan cara pemotongan gaji setiap bulannya. Bayar cicilannya sekitar 17 kali atau 17 bulan.

Renovasi rumah berjalan hampir 4 bulan atau sekitar 108 hari. Mulai tanggal 17 Oktober 2018 sampai tanggal 5 Maret 2019. Kami menggunakan jasa pemborong untuk renovasi tetapi kalau keramik, keran air, dan cat itu pembayaran pribadi atau gue dan Mas Ian sendiri yang beli.

Hanya 4 bulan yah tapi pikiran lumayan ruwet, ada ajaaa godaannya. Dari yang gue sakit-sakitan gegara kepikiran (kepikiran modal cukup apa engga, pikiran barang-barang yang digunakan bagus apa engga, kepikiran hujan apa ga, dan lain-lain yang gue sendiri juga bingung apaan yang dipikirin), trus sampeee berantem sama Mas Ian (mungkin karena kecapean atau karena beda pendapat). Pokoknya bener-bener diuji deh. Yaa mirip-mirip pas persiapan nikah waktu itu sih, adaaa aja godaannya. Selama renovasi rumah, gue dan Mas Ian mengungsi di rumah bokap-nyokap, terus tidurnya pun di ruang tamu. Jadi ruang tamunya dijadiin kamar, hahaha.


Ini diaaa beberapa foto yang bisa gue taro di blog ini. Ga semuanya gue masukin ke blog ini soalnya banyak banget fotonya. Padahal hampir setiap hari gue fotoin perkembangan renov rumah gue, yaaaaaah buat dokumentasi pribadi. Siapa tau (amit-amit) kalau suatu saat ada yang bocor, atau ada kerusakan pipa-pipa yang tertutup plafon bisa gue cek di foto-foto ini. Ya semacam itulah, antisipasi hal tak terduga.

Sebenernya gue juga ada catatan dan bukti pembayaran yang lainnya tapi gue ga masukin kesini, buat gue pribadi aja yaa.

Rumah sebelum direnov, cuma 1 lantai. Lantai atas hanya buat jemuran

Rumah sebelum direnov, cuma 1 lantai. Lantai atas hanya buat jemuran

Ruang tamu dijadikan kamar (ngungsi)

Sudah direnov, jadi 2 lantai

Sudah direnov, jadi 2 lantai

Sudah direnov, jadi 2 lantai


Begitu dah kira-kira cerita gue mengenai tempat tinggal gue dan Mas Ian. Alhamdulillah sudah gak mikirin dimana tempat tinggal gue setelah nikah. Tinggal mikir aja gimana ngatur keuangan karena gaji Mas Ian setiap bulan dipotong hahahha.. Tetap harus bersyukur yaa Insya Allah nanti ada rezeki lagi. aamiin.

Btw awalnya gue kepengen interior rumahnya bertema shabby chic gitu biar unyu-unyu tapi ternyata barang-barang gue kebanyakan terbuat dari kayu. Yaudah gak jadi sok-sok imut, akhirnya yaa kayak di foto gitu deh rumah gue bertema cokelat. Setelah rumah jadi, gue tuh jadi suka ke toko-toko furniture, dapur, dan yang berbau interior. Yaaa maklum lah namanya juga rumah baru jadi yaa maklumi aja hehehhe.

Doain aja ya guys semoga rumah ini membawa keberkahan dan kebaikan, aamiin yra




Tidak ada komentar:

Posting Komentar