PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ABK
A. Pengertian ABK
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development).
B. Ruang Lingkup ABK
Untuk kepentingan penanganan baik pendidikan maupun pengajaran dan therapy terhadap anak berkebutuhan khusus, maka diperlukan klasifikasi dengan tujuan agar penanganan anak lebih sesuai dan memperoleh hasil yang optimal. Adapun klasifikasi yang diberikan oleh direktorat PSLB (Dir. PSLB: 2006:20-21) adalah sebagai berikut:
1. Tunanetra,
2. Tunarungu,
3. Berkebutuhan khusus : (a.l. Down Syndrome):
C : Berkebutuhan khusus Ringan (IQ = 50-70):
C1 : Berkebutuhan khusus Sedang (IQ = 25- 50):
C2 : Berkebutuhan khusus Berat (IQ < 25 ),
4. Tunadaksa : (D : Tunadaksa Ringan, D1 : Tunadaksa Sedang),
5. Tunalaras (Dysruptive),
6. Tunawicara,
7. Tunaganda,
8. HIV AIDS,
9. Gifted : Potensi Kecerdasan Istimewa (IQ > 125 ),
10. Talented : Potensi Bakat Istimewa ( Multiple Intelligences : Language, Logica Mathematic, Visuospatial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual),
11. Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/ Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik),
12. Lambat Belajar ( IQ = 70 – 90 ),
13. Autis,
14. Korban Penyalahgunaan Narkoba,
15. Indigo
PENDIDIKAN INKLUSI
Pendidikan Inklusi adalah sistem layanan pendi-dikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994). Pendidikan inklusi secara luas adalah pendidikan yang menyertakan anak sebagai subyek bukan saja sebagai obyek, pendapat semua anak dapat diakomodir dan dipertimbangkan dengan baik untuk menciptakan pendidikan yang berkeadilan bagi semua, hingga terwujud pendidikan untuk semua (education for all).
Pendidikan inklusif adalah penggabungan layanan pendidikan reguler dengan pendidikan khusus dalam satu sistem yang dipersatukan. Sekolah inklusif adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dengan pendidikan reguler untuk mempertemukan kebutuhan individual anak berkebutuhan khusus. Adapun konsep pendidikan inklusi yang lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (lembaga atau istitusi menyesuaikan dengan kebutuhan siswa).
TUNANETRA
A. Pengertian Tunanetra
Defi nisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan.(Mangunsong, 2009) adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Faktor yang menyebabkan terjadinya ketunanetraan antara lain (DITPLB, 2006): Pre-natal (masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan). Post-natal (Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan).
B. Karakteristik Anak Tunanetra
Ciri utama dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan/ tunanetra adalah adanya penglihatan yang tidak normal. Dapat dilihat dari:
1. Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik antara lain:
a) penglihatan samar-samar untuk jarak dekat atau jauh.
b) medan penglihatan yang terbatas,
c) tidak mampu membedakan warna,
d) adaptasi terhadap terang dan gelap terhambat,
e) sangat sensitive/peka terhadap cahaya atau ruang terang.
Ciri lain dari gangguan penglihatan mencakup perkembangan bahasa, kemampuan intelektual, konseptual, mobilitas, prestasi akademik, penyesuaian social dan perilakuperilaku stereotipik.
2. Beberapa gejala tingkah laku pada anak yang mengalami gangguan penglihatan dini antara lain; berkedip lebih banyak dari biasanya, menyipitkan mata, tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh. Adanya keluhan-keluhan antara lain : mata gatal, panas, pusing, kabur atau penglihatan ganda.
3. Mental/Intelektual tidak berbeda jauh dengan anak normal. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah.
4. Kadangkala ada keluarga yang belum siap menerima anggota keluarga yang tuna netra sehingga menimbulkan ketegangan di antara keluarga. Seorang tunanetra biasanya mengalami hambatan kepribadian seperti curiga terhadap orang lain, perasaan mudah tersinggung dan ketergantungan yang berlebihan. Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.
C. Penyebab Tunanetra
Faktor yang menyebabkan terjadinya ketunanetraan antara lain (DITPLB, 2006):
1. Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan. Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. (prenatal)
2. Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal, dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:
a. Kerusakan pada saraf mata pada waktu persalinan,
b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi,
c. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya: Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin A,
d. Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll.
D. Klasifikasi Tunanetra
Tunanetra dapat diklasifikasikan berdasarkan, tingkat ketajaman penglihatan, saat terjadinya tunanetra, serta adaptasi pendidikannya. Berdasarkan tingkat ketajaman penglihatannya tunanetra dapat dibedakan menjadi: 1) Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200 feet, yang disebut kurang lihat. 2) Tunanetra dengan ketajaman penglihatan antara 6/60 m atau 20/200 feet atau kurang, yang disebut buta. 3) Tunanetra yang memiliki visus 0, atau yang disebut buta total (tolally blind).
E. Kebutuhan dan Layanan Pendidikan bagi Tunanetra
Layanan pendidikan bagi anak tunanetra dapat dilaksanakan melalui sistem segregasi, yaitu secara terpisah dari anak awas; dan integrasi atau terpadu dengan anak awas di sekolah biasa. Tempat pendidikan dengan sistem segregasi, meputi: sekolah khusus (SLB-A), SDLB, dan kelas jauh/kelas kunjung.
F. Strategi Pembelajaran Anak Tunanetra
1. Guru harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya.
2. Menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu.
3. Pemanfaatan indera yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/ proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar.
TUNARUNGU
A. Pengertian Tunarungu
Anak tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau Sebagian daya pendengarannya , sehingga mengalami Gangguan berkomunikasi secara verbal
B. Karakteristik Anak Tunarungu
1. Cara berjalan kaku dan agak membungkuk, Gerakan mata cepat, Gerakan kaki dan tangan yang cepat, Pernapasan yang pendek dan agak terganggu - Hernawati (1990)
2. Bahasa dan Bicara. Anak tunarungu mempunyai ciri-ciri perkembangan bahasa sebagai berikut:
a. Fase motorik yang tidak teratur.
b. Fase meraban (babbling)
c. Karakteristik anak tunarungu dalam aspek akademik
3. Dalam bidang akademik, anak tunarungu cenderung memiliki prestasi yang rendah dalam mata pelajaran yang bersifat verbal dan cenderung sama dalam mata pelajaran yang bersifat non verbal dengan anak normal seusianya.
4. Dalam aspek sosial-emosional, anak tunarungu:
a. Pergaulan terbatas dengan sesama tunarungu,
b. Sifat ego-sentris yang melebihi anak normal, yang ditunjukkan dengan sukarnya mereka menempatkan diri pada situasi berpikir dan perasaan orang lain, sukarnya menyesuaikan diri, serta tindakannya lebih terpusat pada “aku/ego”, sehingga kalau ada keinginan, harus selalu dipenuhi.
c. Perasaan takut (khawatir) terhadap lingkungan sekitar, yang menyebabkan ia tergantung pada orang lain serta kurang percaya diri.
d. Perhatian anak tunarungu sukar dialihkan, apabila ia sudah menyenangi suatu benda atau pekerjaan tertentu.
e. Memiliki sifat polos, serta perasaannya umumnya dalam keadaan ekstrim tanpa banyak nuansa.
f. Cepat marah dan mudah tersinggung, sebagai akibat seringnya mengalami kekecewaan karena sulitnya menyampaikan perasaan/keinginannya secara lisan ataupun dalam memahami pembicaraan orang lain.
C. Klasifikasi Tunarungu
Klasifikasi secara etiologis
1. Salah satu atau kedua orang tua anak menderita tuanrungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal, misalnya dominat genes, recesive gen dan lainlain
2. Pada saat kelahiran (Sewaktu melahirkan, ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan di bantu dengan penyedotan (tang), Prematuritas yakni bayi lahir sebelum waktunya).
3. Pada saat setelah kelahiran (post natal) : ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak (meningitis) atau infeksi umum, Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak, atau kecelakaan.
Klasifikasi menurut tarafnya
1) Tingkat I, kehilangan kemmapuan mendengar antara 35 sampai 54 dB, penderita hanya memerlukan latihan berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.
2) Tingkat II, kehilangan kemampuan mendengar antara 55 sampai 69 dB, penderita kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus, dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan penempatan latihan berbicara dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.
3) Tingkat III, kehilangan kemampuan mendengar antara 70 sampai 89 dB
4) Tingkat IV, kehilangan kemampuan mendengar 90 dB ke atas.
Klasifikasi berdasarkan saat terjadinya ketunarunguan
1) Ketunarunguan Prabahasa ( Prelingual Deafness)
2) Ketunarunguan Pasca Bahasa ( Post Lingual Deafness)
Klasifikasi berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis
a) Tunarungu Tipe Konduktif, Penyebab Tunarungu Tipe Konduktif; (1) Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga luar yang dapat disebabkan antara lain oleh: tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus akustikus externus), dan terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis externa). (2) Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah, yang dapat disebabkan antara lain oleh hal-hal berikut: (a) Ruda Paksa, yaitu adanya tekanan/benturan yang keras pada telinga seperti karena jatuh tabrakan, tertusuk, dan sebagainya. (b) Terjadinya peradangan/inpeksi pada telinga tengah (otitis media). (c) Otosclerosis, yaitu terjadinya pertumbuhan tulang pada kaki tulang stapes. (d) Tympanisclerosis, yaitu adanya lapisan kalsium/zat kapur pada gendang dengar (membran timpani) dan tulang pendengaran. (e) Anomali congenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya tulang pendengaran yang dibawa sejak lahir. (f) Disfungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan rongga mulut), akibat alergi atau tumor pada nasopharynx.
b) Penyebab Terjadinya Tunarungu Tipe Sensorineural, disebabkan oleh faktor genetik (keturunan), disebabkan oleh faktor non genetik antara lain: (Rubena (Campak Jerman), Ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak., Meningitis (radang selaput otak ), Trauma akustik c) Tunarungu Tipe Campuran
D. Kebutuhan Pendidikan dan Layanan Anak Tunarungu
Ditinjau dari tempat sistem pendidikannya, layanan pendidikan bagi anak tunarungu dikelompokkan menjadi sistem segregasi dan integrasi/terpadu. Sistem sgregasi merupakan sistem pendidikan yang terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak mendengar/ normal. Sistem Pendidikan intergrasi/terpadu, merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak tunarungu untuk belajar bersama anak mendengar/normal di sekolah umum/ biasa.
E. Pengaruh Pendengaran pada Perkembangan Bicara dan Bahasa
Adapun berbagai media komunikasi yang dapat di gunakan sebagai berikut ; 1. Bagi anak tunarungu yang mampu bicara, tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak anak tunarungu. 2. Menggunakan media tulisan dan membaca sebagai sarana penerimaannya 3. Menggunakan isyarat sebagai media
F. Model Pendidikan untuk Tunarungu
Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu pada dasarnya sama dengan strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak mendengar/normal, akan tetapi dalam pelaksanaannya, harus bersifat visual, artinya lebih banyak memanfaatkan indra penglihatan siswa tunarungu.
TUNALARAS
A. Pengertian Anak Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengaiami hambatan emosi dan tingkah laku sehingga kurang dapat atau mengaiami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dan hal ini akan mengganggu situasi belajarnya,
B. Klasifikasi Anak Tunalaras
Adapun anak yang mengalami gangguan emosi diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Neurotic behavior (perilaku neurotik)
Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh keadaan atau sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.
2. Children with psychotic processes.
Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta-tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran .ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya: minuman keras dan obat-obatan. Oleh karena itulah usaha penanggulangannya lebih sulit karena anak tidak dapat berkomunikasi, sehingga layanan pendidikan harus disesuaikan dengan kemajuan terapi dan dilakukan pada setiap kesempatan yang memungkinkan.
C. Faktor-faktor Penyebab Ketunalarasan
1. Kondisi/Keadaan Fisik
2. Masalah Perkembangan
a. Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
b. Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
c. Perkembangan Emosi Anak Tunalaras
d. Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
D. Dampak Ketunalarasan Bagi Individu dan Lingkungan
Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri. Bila mereka kurang mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, maka mereka akan semakin terperosok dan jarak yang memisahkan mereka dari lingkungan sosialnya akan semakin bertambah lebar.
AUTISME
A. Pengertian Autisme
Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan social atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif
B. Karakteristik Autisme
Powers (1989) karakteristik anak autistic adalah adanya 6 gejala/gangguan, yaitu dalam bidang : Interaksi social, Komunikasi (bicara, bahasa dan komunikasi), Pola bermain, Gangguan sensoris, Perkembangan terlambat atau tidak normal, Penampakan gejala (Perilaku, Emosi).
KEBERBAKATAN
A. Definisi Keberbakatan
Kecerdasan atau keberbakatan yang luar biasa didalam hal ini dipandang dengan istilah “gifted” atau berbakat. Satu ciri yang paling umum diterima sebagai ciri anak berbakat ialah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak normal.
B. Karakteristik Anak Berbakat
Karakteristik Umum Anak Berbakat, pada penelitian karakteristik dan kebutuhan anak berbakat lain dari pada anak-anak pada umumnya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Entah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberbakatan
1. Hereditary Factor, perkembangan individu diyakini banyak ditentukan oleh “benih” darimana ia berasal
2. Environmental Factor, meskipun secara kodrati para anakberbakat telah memiliki pola otak yang hebat, akan tetapi lingkungan akhirnya menentukan sampai seberapa jauh terjadi aktualisasi.
D. Jenis-jenis Keberbakatan
1. Visual/Spasial Orang yang memiliki spasial yang tinggi memiliki mata super.
2. Verbal/Linguistik Orang yang unggul dalam bidang ini bekerja bagaikan generator kata dan bahasa.
3. Musik Bakat musik merupakan gabungan dari kemampuan mengenai pola nada, tinggi rendah nada, melodi, irama, dan kepekaan menangkap aspek-aspek bunyi dan musik secara mendalam atau penuh perasaan.
4. Kinestetis Kinestetis merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah tubuh secara ahli, mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan.
5. Logis/ matematis Kemmapuan ini mengatur olah deduktif dan induktif, bekerja dengan angka dan pola abstrak serta mampu berpikir logis.
6. Interpersonal Kepandaian seseorang untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Kecerdasan ini memuntun seseorang untuk memahami, bekerjasama dan berkomunikasi, serta memelihara hubungan baik dengan orang lain.
7. Intrapersonal Anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal biasanya tidak cepat puas dengan hasil pekerjaan mereka.
E. Identifikasi Anak Berbakat
Beberapa kemungkinan teknik identifi kasi anak berbakat yang dapat dilakukan di sekolah ialah :
1. Penggunaan tes kecerdasan
2. Studi kasus Prestasi akademik dan perilaku nonakademik, dapat dijadikan indikator dari keberbakatan seseorang.
IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Pengertian ABK
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fi sik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras , kesulitan belajar , gangguan prilaku , anak berbakat , anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat
B. Klasifikasi ABK
Anak berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi anak berkebutuhan khusus temporer dan permanen. Anak berkebutuhan khusus permanen meliputi:
a. Anak dengan gangguan penglihatan ( Tunanetra), 1). Anak Kurang Awas (low vision) 2). Anak tunanetra total (totally blind).
b. Anak dengan gangguan pendengaran dan bicara ( Tunarungu/ Wicara),
1). Anak kurang dengar (hard of hearing)
2). Anak tuli (deaf)
c. Anak dengan kelainan Kecerdasan
1) Anak dengan gangguan kecerdasan (intelektual) di bawah ratarata (tunagrahita)
a). Anak tunagrahita ringan ( IQ IQ 50 – 70).
b). Anak tunagrahita sedang (IQ 25 – 49).
c). Anak tunagrahita berat (IQ 25 – ke bawah).
2) Anak dengan kemampuan intelegensi di atas rata-rata
a). Giff ted dan Genius, yaitu anak yang memiliki kecerdasan di atas ratarata
b). Talented, yaitu anak yang memiliki keberbakatan khusus
d. Anak dengan gangguan anggota gerak ( Tunadaksa).
1). Anak layuh anggota gerak tubuh (polio)
2). Anak dengan gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palcy)
e. Anak dengan gangguan perilaku dan emosi (Tunalaras)
1). Anak dengan gangguan prilaku
a) Anak dengan gangguan perilaku taraf ringan
b) Anak dengan gangguan perilaku taraf sedang
c) Anak dengan gangguan perilaku taraf berat
2). Anak dengan gangguan emosi
a) Anak dengan gangguan emosi taraf ringan
b) Anak dengan gangguan emosi taraf sedang
c) Anak dengan gangguan emosi taraf berat
f. Anak gangguan belajar spesifik
g. Anak lamban belajar (slow learner)
h. Anak Autis
i. Anak ADHD Anak berkebutuhan khusus temporer diantaranya :
a. anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah,
b. anak-anak jalanan (anjal),
c. anak-anak korban bencana alam,
d. anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil,
e. serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS
C. Identifikasi ABK
Identifi kasi anak berkebutuhan khusus diperlukan agar keberadaan mereka dapat diketahui sedini mungkin. Selanjutnya, program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dapat diberikan. Pelayanan tersebut dapat berupa penanganan medis, terapi, dan pelayanan pendidikan dengan tujuan mengembangkan potensi mereka.
Sumber :
Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus - Nur’aeni, S. Psi., M. Si (academia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar