KESULITAN BELAJAR KOGNITIF
Adlh kesubel yg bsifat pkb (developmental learning) atw kesubel preakademik. Agar dpt mmhmi kesubel, guru harus memahami :
1. Hakikat kognisi
Kognisi mncakup aspek struktur intelek yg dpgunakan utk mgethaui sswtu. Kognisi = fgsi mental yg meliputi persepsi, pikiran, symbol, penalaran, pemecahan mslh.
2. Kaitan antara kesubel kognitif dg gaya kognitif
Blackman & Goldstain mengemukakan gaya kognitif tkait bgmn ssorg bpikir, tiap org memiliki gaya kognitif yg berbeda. Ada 2 dimensi gaya kognitif yg mperoleh phatian paling bsr dlm pengkajian anak kesubel, yaitu :
a. Dimensi gaya kognitif keterikatan” pd lingkungan (field independence - field dependence).
Menunjukan pd kmampuan ssorg utk mbebaskan diri dr pgaruh lingk pd saat mbuat kputusan ttg tugas” perceptual. Org” yg mbuat tgs” perceptual byk dpengaruhi lingk disebut dg ‘terikat pd lingk’ (field dependence). Dia mudah terkecoh o/ info yg menyesatkan shgga persepsinya tdk akurat.
Sdgkan yg tdk mudah tpengaruh ling dsebut ‘tdk tpgaruh lingk (field independence). Anak ini mampu mfokuskan pd sbagian bsr data perceptual esensial tanpa tpengaruh detail” data personil tsb.
Cara informal utk mgetahui apakah anak tgolong btipe terikat pd lingk/tdk, dpt mggunakan gmbar trapezium yg ke2 sisinya tdk sjajar & anak dminta utk mbuat garis vertical diantara ke2 sisi yg tdk sjajar. Jika anak tpengaruh oleh sisi yg tdk sjajar, maka diduga tgolong b’tipe pd lingk, sdgkan anak yg dpt mbuat vertical tanpa tpengaruh oleh sisi yg tdk sjajar diduga tgolong btipe tdk terikat pd lingk.
b. Gaya kognitif reflektivitas – impulsivitas (reflectivity – impulsivity)
Gaya kgnitif impulsive-reflektif tkait dg pggunaan wktu yg dgunakan olh anak utk mjawab psoalan & jmlh ksalahan yg dbuat. Anak yg impulsive mnjwb psoalan sc rcpt tp mbuat ksalahan sdgkan anak yg reflektif cnderung mjawab psoalan scr lambat tp mbuat sdkt ksalahan. Anak yg lbh muda dan anak berkesbel umumnya lbh impulsive drpd yg lbh tua.
3 3. Berbagai strategi pngembangan kognisi
Elemen penting dr kognisi = ingatan & memori.
a. Strategi pgmbangan memori
Ad 2 mcm memori :
· Memori jgka pnjng, akan tjd jika ad pngulangan n pnerapan dlm khidupan sehari”.
· Memori jgka pndek, anak disuruh mengamati objek” visual/auditif dlm wkt singkat missal 20dtk selanjutnya anak dsuru mngingat kmbali objek yg dilihat & didengarkan itu.
b. Strategi pgmbgn keterampilan metakognitif
Keterampilan metakognitif = pgthuan ttg proses kgnitif sndiri & kmmpuan mggunakan proses tsb.
Anak kesbel tidak byk mmiliki strategi solusi mslh” memori.
Hallahan, Kauffman, Lloyd merinci adanya
· Metamemory, bekenaan dg pgthuan ttg proses memorinya sndiri & pggunaanna
· Metalistening, bkenaan dg pgthuan ttg proses mdengarkan/cr mperhatikan swt pmbicaraan yg dsampaikan org lain
· Metacomprehension, berkenaan pgtahuan ttg proses memahami bacaan yg dlakukan sndiri.
Strateginya :
- · Mnjelaskan tujuan mbaca
- · Mmusatkan phatian pd bagian” pntg bcaan
- · Mmantau taraf pmahamannya sndiri
- · Mbaca ulang & mbaca cpt lbh dulu
- · Mnggunakan kamus/ensiklopedi
Pengembangan keterampilan metakognitif dpt dilakukan melalui pmbelajaran koperatif. Dgn itu, anak dpt sling mngetahui proses pmcahan swt mslh.
KESULITAN BELAJAR BAHASA
Hakikat Bahasa dan Wicara
Bahasa merupakan suatu system komunikasi yg terintergrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca dan menulis. Swtu ekspresi bahasa dlm bentuk wicara merupakan bentuk penyampaian bahasa dgn menggunakan organ wicara.
Menurut Owens (1984:379) bahasa merupakan kode atau system konvensional yg disepakati secara social untk menyajikan pengertian melalui penggunaan symbol” sembarang & tersusun berdasarkan aturan yg telah ditentukan.
Menurut ASHLA ( American Speech-Language-Hearing Assosiation) ada tiga komponen wicara, yaitu:
(1) Artikulasi, berkenaan dengan kejelasan pengujaran
(2) suara, berkenaan dengan nada kenyaringan, dan kualitas wicara
(3) kelancaran, berkenaan dengan kecepatan wicara.
Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu (1) fonem, satuan terkecil dari bunyi ujaran (2) morfem, unit terkecil dalam bahasa yang mengandung makna (3) sintaksis, berkenaan dengan tata bahasa, yaitu bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat (4) semantic, (5) prosodi, Prosodi berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa dan (6) pragmatic berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi social yang sesuai.
Perkembangan Bahasa Anak Normal
Perkembangan bahasa terjadi secara berkesinambungan dari sejak berusia satu tahun hingga mampu mengintergrasikan ketiga komponen tersebut. 3 komponen bahasa :
a. Perkembangan isi dan bentuk bahasa
1. Pembendaharaan kata
Pada usia 2 thn, anak biasanya telah mulai mengucapkan kata” dan memahami makna dari kata-kata tersebut. Pada umumnya mereka mulai berbicara satu kata dan menggunakan kata tersebut untk berbagai mksud. Anak mempelajari kata” secara berangsur-angsur dengan mencoba kata-kata tersebut ke dalam berbagai situasi. Tentu saja, dalam melakukan percobaan tersebut, anak sering menggunakan kata-kata yang tidak tepat. Biasanya saat usia ini, penggunaan kata tunggal berlanjut hingga menjadi sintaksis. Sementara itu, anak mulai belajar tentang semantic dan struktur sintaksis untuk kalimat yang lebih kompleks.
Pada periode ini, peranan orang tua sangat penting, mereka secara terus -menerus berkomunikasi verbal maupun gestural dengan anak. Melalui percakapan, orang tua sering meminta anak mengucapkan kata-kata yang telah dikuasai kepada anggota keluarga lainnya, shgga dgn dmkn anak memperoleh leh byk ulangan penguatan (reinforcement) yg memungkinkan anak utk lbh byk berbicara. Anak berkesbel sering tdk memiliki situasi keluarga smcam itu, shgga ank krng memiliki ksmpatan utk mencoba kmmpuan mrk dlm bicara. Oleh karena itu, banyak anak berkesbel yg pkb bahasanya terhenti pd tahap ini shgga memiliki kesulitan utk berbicara secara lebih baik.
2. Struktur Semantik-Sintaksis
Isi semantic kalimat-kalimat permulaan adalah informasi tentang hubungan antar berbagai objek, terutama mencakup kegiatan, temat, dan orang. Pada tahap ini anak mulai menggunakan frasa seperti “mama saya” dan “dimana ayah saya”. Berdasarkan kombinasi sederhana tersebut, strusktur sintaksis kalimat akan berkembang secara bertahap.
Struktur bahasa permulaan yang lain adalah penggunaan kata-kata yang sama dalam situasi yang berbeda-beda dan dengan bermacam-macam makna.
3. Variasi dan Kompleksitas
Variasi dan kompleksitas merupakan dua cirri penting dari bahasa anak-anak. Mengenal variasi, anak-anak disamping menambah pembendaharaan kata juga aturan-aturan penggabungan dari tiap-tiap pengetahuan bahasa yang dimiliki yaitu, isi, bentuk, dan penggunaan.
Banyak anak berkesulitan belajar yang lambat dalam mengembangkan kata-kata baru atau yang berbeda. Kompleksitas terjadi ketika kalimat-kalimat anak menjadi lebih panjang. Pada mulanya anak-anak menggabungkan hubungan semantic-sintaksis yang muncul dalam ucapan-ucapan paling awal. Selanjutnya, anak-anak menggabungkan kalimat-kalimat sederhana dengan kata penghubung.
b. Perkembangan penggunaan bahasa
1) Fungsi
Fungsi merupakan aspek yang bermakna dalam bahasa, yaitu berbagai hal yang dilakukan oleh orang dengan bahasa. Aspek lain adalah keharusan melaksanakan berbagai aturan yang diperlukan pembicara untuk memilih bentuk dan susunan yang tepat untuk mencapai tujuan komunikasi.
Dari usia 3 tahun, anak menjadi lebih sadar akan banyaknya fungsi bahasa dan penggunaannya. Anak yg lebih banyak memperoleh kesempatan untuk melakukan percakapan akan memperoleh kesempatan lebih banyak pula dalam menggunakan kata, bentuk, dan gaya. Tetapi sayangnya, anak-anak berkesulitan belajar tidak memperoleh keuntungan karena mereka sering enggan melakukan percakapan, dan jika mereka melakukannya, interaksi tersebut hanya dalam waktu yang singkat dan cenderung pada tingkat percakapan yang rendah.
2) Hubungan antara pemahaman dan percakapan
Para guru dan orang tua sepakat bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kata-kata yang didengar oleh anak-anak dengan yang mereka katakan. Sambil menyimak dan memahami perkataan orang lain, anak-anak mulai memahami makna dan maksud dari berbagai kata dan frasa. Selanjutnya, orangtua atau teman bicara yang komunikatif pada saat mendengar berbagai kata dan frasa tersebut bereaksi dengan cara memperbaiki bicara anak.
3) Bahasa sebagai proses sepanjang kehidupan
Manusia dalam mengembangjan kemampuan berbahasa hamoir sepanjang kehidupan mereka. Selama seorang individu mendengarkan berbagai percakapan yang lebiih baik, maka individu tersebut akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa.
Kesulitan Belajar Bahasa dan Asesmennya
a. Kesulitan Belajar Bahasa
Menurut Lovitt (1989: 151), ada berbagai penyebab kesulitan belajar bahasa, yaitu :
1. Kekurangan Kognitif
Ada tujuh jenis kekurangan kognitif, yaitu (1) Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara, (2) Pembentukan konsep dan pengembangannya ke dalam unit semantic, (3) Mengklasifikasi kata, (4) Kesulitan dalam Relasi Sistematik, (5) Kesulitan dalam memahami system semantic, (6) Transformasi Semantik, (7) Implikasi Semantik.
2. Kekurangan Dalam Memori
Hasil penelitian menunjukan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Kekurangan ini dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Mereka sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonema mengingat kembali kata-kata, mengingat symbol dan memahami hubungan sebab-akibat.
3. Kekurangan Kemampuan Melakukan Evaluasi/Menilai
Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan dalam menilai kemantapan atau keajegan arti suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya anak mungkin menerima saja kalimat atau kata yang salah.
4. Kekurangan Kemampuan Memproduksi Bahasa
Hasil penelitian Idol-Meatas (Lovitt, 1989) menunjukkan bahwa bahasa anak-anak berkesulitan belajar mengandung lebih sedikit kata-kata bermakna daripada anak-anak yang perkembangan bahasanya normal. Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, yaitu kemampuan produksi konvergen dan kemampuan produksi devergen.
5. Kekurangan Pragmatik
Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertayaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat.
b. Asesmen Kemampuan Berbahasa
Ada dua macam jenis asesmen, yaitu asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal telah dibakukan sedangkan asesmen informal sering tidak dibakukan. Asesmen formal bahasa Indonesia belum banyak dikembangkan karena kajian tentang kesulitan belajar masih berada pada tahap permulaan. Untuk mengatasi kondisi yang menguntungkan tersebut, tes bahasa Indonesia digunakan sebagai alat asesmen. Tes konsep-konsep dasar ciptaan Boehm (Boehm Test of Basic Concept) (Boehm, 1970) merupakan salah satu intrumen asesmen formal yang dapat diadopsi di Indonesia khususnya anak usia sekolah permulaan. Tes tersebut dirancang untuk mengevaluasi pengetahuan dan pemahaman anak tentang konsep dasar kuantitas, ruang, waktu dan kombinasi aspek-aspek.
Asesmen informal atau evaluasi percakapan spontan, guru dapat melakukan percakapan dengan anak tentang berbagai hal yang disukai anak. Dengan demikian guru dapat mengetahui berbagai kesalahan bahasa yang dibuat oleh anak dan berdasarkan kesalahan tersebut guru dapat melakukan tindakan korektif atau interventif.
Remediasi
Menurut Lovitt (1989; 165), ada lima macam pendekatan remediasi bagi anak kesulitan belajar bahasa, yaitu :
1. Pendekatan Proses, btujuan mperkuat & menormalkan proses yg dpandang sbg dsr dlm mperoleh kemahiran berbahasa & komunikasi verbal.
2. Pendekatan Analisis Tugas, btujuan meningkatkan kompleksitas pengertian (semantic), struktur, atw fgsi bhs anak”
3. Pendekatan Behavioral, btujuan memodifikasi bahasa lahir & perilaku komunikasi
4. Pendekatan Interaktif-Interpersonal, btujuanmperkuat kmampuan prakmatik & mngembangkan kompetensi komunikasi
5. Pendekatan Sistem Lingkungan Total, btujuanmciptakan pristiwa /situasi lingk yg kondusif & mdorong tjadinya frek berbahasa pd anak.
KESULITAN BELAJAR MENULIS-DYSGRAFIA
Menulis merupakan slh stu komponen system komunikasi. Menulis adlh mnggambarkan pkiran, perasaan, dan id eke dlm bntuk lambing” bhs grafis. Menulis dilakukan utk kperluan mcatatat & komunikasi.
Proses menulis suatu proses neurofisiologis. Russel & Wanda mbagi 4 lobus :
1. Lobus frontalis (bagian depan, dilindungi dahi), fungsinya pusat pgertian, koordinasi motorik, dan yg bhbgn dg watak/tabiat.
2. Lobus parientalis (bag atas, dilindungi tulang ubun”), fungsinya menerima &menginterpretasi rangsangan sensoris, kinestetis, orientasi ruang, phayatan tubuh.
3. Lobus temporalis (bag samping, dilindungi tulang pelipis). Fungsinya pusat pngertian pembicaraan, pndengaran, memori, pngecap, pnciuman.
4. Lobus occipitalis (bag blkg, dilindungi olh tulang blkg kepala) fungsinya pusat penglihatan.
Kesbel menulis :
1. Menulis dg tangan atw menulis pmulaan, factor yg mpengaruhi kmampuan anak utk mnulis : (1) motorik, (2) perilaku, (3) persepsi, (4) memori, (5) kmampuan mlaksanakan cross modal, (6) pggunaan tangan yg dominan (7) kmampuan mmahami instruksi.
Cara anak kesbel memegang pensil : (1) sudut pinsil tll bsr, (2) sdt pensit tll kecil, (3) menggenggam pinsil sprt mninju ,(4) menyangkutkan pinsil di tangan atw nyeret pinsil (kidal)
Anak harus menulis huruf cetak dahulu sblm sambung => cara saat ini (metose SAS). Menurut Lovit, alasannnya adl :
(1) Huruf cetak lbh mudah dpelajari krn bentuknya sdrhana
(2) Buku” mggunakan huruf cetak shgg anak” tdk perlu mengakomodasikan 2 bntuk tulisan
(3) Mudah dibaca
(4) Huruf cetak dgunakan utk khidupan shari” sperti mngisi formulir
(5) Lebih mudah dieja
2. Mengeja
3. Menulis eksresif, yaitu mngungkapkan pkiran atw perasaan ke dlm bentuk tulisan shgg dpt dipahami oleh orla yg sebahasa (bs dsebut mengarang)
Menurut Roit & Mc Kenzie ad 3 alasan anak kesbel dlm menulis eksresif :
(1) Meskipun pdkt analisis tugas sesuai utk pgajaran Mtk & mbaca, pdkt ini tdk sesuai utk mngmbangkan kmampuan mnulis
(2) Meskipun anak mperoleh byk latihan ttg elemen” menulis, mrk tdk mperoleh kesempatan yg ckup mnulis ekspresif
(3) Krn anak kesbel krng memiliki keterampilan metakognitif dbanding dg anak normal.
Roit & McKenzie mengemukakan 3 saran dlm mnyusun program pgajaran mnulis ekspresif :
(1) Guru hrs lebi sensitive tehadap anak kesbel, kasi motivasi n mbantu anak
(2) Guru menyusun jdwal menulis dlm situasi & konteks yg bervariasi
(3) Guru mnggunakan aktivitas yg berorientasi upaya mbangkitkan rasa ingin tahu, smangat, prediksi, dsb
Assesmen
1. Formal, di Indonesia blm dikembangkan, karena : (1) kajian kesbel masi pd tahap permulaan, (2) melakukan adaptasi bbagai instrument dr Negara lain dan itu pul sulit krn perbedaan budaya
2. Informal
a. Assesmen Kesulitan Menulis dg Tangan
· Dr kiri-kanan
· Pegang pinsil dg bnr
· Nulis nama pggilan
· Nulis huruf”
· Nyalin kt” dr papantulis
· Nulis dgn garis yg tepat
b. Assesmen Kesulitan Mengeja
· Pengurangan hrf
· Mcerminkan dialek
· Mcerminkan ksalahan ucap
· Pmbalikan huruf dlm kata
· Pmbalikan vokal
c. Assesmen Kesulitan Menulis Ekspresif
· Panjang karangan
· Ejaan, tanda baca, tata bhs
· Kematangan & keabstrakan tema
· Bntuk tulisan n huruf
· Panjang kalimat
Pengajaran Remedial Menulis
a. Mnulis Permulaan/dgn tangan
b. Mengeja
c. Menulis ekspresif
KESULITAN BELAJAR MEMBACA - Dyslexia
1. Hakikat Membaca
A.S. Broto mengemukakan membaca bukan hanya mengucap bhs tulisan/lambang bunyi bhs tp jg menanggapi & memahami isi tulisan. Kesimpulan : mbaca adl aktivitas kompleks yg mcakup fisik (gerakan mata & ketajaman penglihatan) & mental (ingatan & pemahaman).
Tahap mbaca permulaan umumnya dimulai sejak anak masuk SD (6th). Melalui metode SAS => anak diperkenalkan pd unit bahasa terkecil, yaitu kalimat (dari kata2-suku kata-kata-kalimat utuh). Tahap keterampilan membaca cepat atau membaca lancer umumnya pada kelas 2-3sd. Tahap membaca luas, kls 4-5sd, bysana baca buku cerita n majalah. Tahap mbaca sesungguhnya pd SMP, pd tahap ini mbaca utk belajar.
Simpulan : hakikat mbaca adlh memahami isi bacaan, ada tahapan2 kmampuan mbaca yg hrs dilalui,.
2. Hakikat Kesulitan Belajar Membaca
a. Definisi
b. Karakteristik
1. Kebysaan mbaca (gelisah)
2. Kkeliruan mngenal kata (contoh: ‘bunga mawar merah’ menjadi ‘bunga merah’)
3. Kkliruan pmahaman (tampak pd banyaknya kkeliruan dlm mjawab ptanyaan yg tkait dgn bacaan)
4. Gejala2 serbaneka (mbaca kata demi kata, mbaca tegang dan nada tinggi, mbaca penekanannya tidak tepat)
c. Berbagai kesalahan mbaca
1. Pnghilangan kata/huruf
2. Pnyelipan kata
3. Pnggantian kata
4. Pgucapan kata salah n makna beda
5. Pengulangan
6. Pembalikan kata
7. Pembalikan huruf
8. Kurang mperhatikan tanda baca
9. Pmbetulan sndiri
10. Ragu2
11. Tersendat2
3. Assessmen
a. Membaca Lisan
Menurut Hargrove n Poteet ada 13 perilaku yg mengindikasikan anak berkesbel
1. Menunjuk tiap kata
2. Mnelusuri tiap baris yg sdg dbaca dr kiri-kanan dg jari
3. Mnggerakan kepala bukan mata
4. Mendekatkan buku tll dekat dg mata
5. Sering mlihat gambar jika ad
6. Mulut komat-kamit
7. Mbaca kata demi kata
8. Mbaca tll cepat
9. Mbaca tanpa ekspresi
10. Mlakukan analisis tp tdk mnsintesiskan
11. Adanya suara aneh n tegang
b. Membaca Pemahaman
Menurut Ekwall ada tujuan kmampuan yg ingin dcapai melalui mbaca pemahaman
1. Mngenal ide pokok bacaan
2. Mngenal detail yg pnting
3. Mngembangkan imajinasi visual
4. Meramalkan hasil
5. Mngikuti petunjuk
6. Mengenal organisasi karangan
7. Mbaca ktitis
4. Berbagai Metode Pengajaran Membaca
a. Metode pd umumnya
1. Mbaca Dasar
2. Metode Fonik
3. Metode Linguistik
4. SAS
5. Alfabetik
6. Pengalaman Bahasa
b. Met Anak Berkesbel Membaca
1. Met Fernald
2. Met Gillingham
3. Met Analisis Glass
IDENTIFIKASI DAN INTERVENSI DINI
1. Latar Belakang
2. Tujuan
a. Anak yg berisiko berkesbel
Ada 3 alasan menyatakan anak memiliki potensi gagal sekolah/berkesbel :
(1) Hasil pemeriksaan medis
(2) Risiko biologis
(3) Risiko lingkungan
b. Hakikat identifikasi & intervensi dini
Ada 6 langkah identifikasi & intervensi dini :
(1) Menjalin hubungan dan meningkatkan ksadaran masy
(2) Melaksanakan identifikasi
(3) Menegakkan diagnosis
(4) Merancang program intervensi
(5) Melaksanakan intervensi
(6) Mengevaluasi program intervensi
c. Manfaat identifikasi & intervensi dini
d. System pelayanan identifikasi & intervensi dini
(1) Di rumah
(2) Integrasi dengan TK
(3) Pusat2 pelayanan identifikasi & intervensi dini
(4) Digabungkan antara pilihan2 tsb
e. Berbagai metode program intervensi dini
Menurut Lerner ada 4 :
(1) Pengayaan
(2) Pengajaran Langsung
(3) Program yg mnekankan pd kognitif
(4) Program kombinasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar