Halaman

Sabtu, 17 November 2018

Promil

 Hay,


Kali ini gue akan bercerita bagaimana program hamil gue dan Mas Ian setelah menikah. Jujur aja ya dari hati  yang terdalam, setelah menikah gue merasa sedikit kepikiran "gimana yah gue kalau jadi seorang ibu? apakah mampu?" yah kaget aja habis nikah kayak yang mikir "woii guee sekarang istri orang lhoo, gue udah punya dua ibu dan dua bapak yaitu ibu-bapak kandung dan ibu-bapak mertua. Sebentar lagi gue yang bakalan jadi ibu dan harus menjadikan anak gue dan Mas Ian manusia yang soleh/solehah serta berguna, apakah mampu?". Begitu lah kira-kira. Tapi gue pasrahin semua kepada Allah SWT, bismillah.

Mas Ian semenjak pacaran, suka berkhayal untuk punya anak banyak. Gue aamiinin aja, target gue sih sebenarnya maksimal tiga orang, tapi kembali lagi ke Allah SWT ngasihnya berapa banyak hueehehe.

Seiring berjalannya waktu, kira-kira udah lima bulan gue dan Mas Ian menikah belum ada tanda-tanda gue hamil. Gue merasa masih enjoy aja menikmati masa pacaran setelah menikah, tapi pihak keluarga Mas Ian beserta teman-teman sekitar udah mulai menanyakan hal itu. Agak risih juga sih yaa tapi kan lama-lama kepikiran juga, jangan-jangan ada yang ga beres di badan gue. 


Setelah diskusi dengan Mas Ian, akhirnya gue dan Mas Ian pergilah pertama kalinya cek kesehatan ke RSIA Hermina Jatinegara. Kali ini cuma gue saja yang diperiksa. Gue ketemu dr. Nining (gue sengaja pilih dokter wanita). 


Sebelum ke RSIA gue telepon untuk tau urutan berobatnya dan gue pilih hari Sabtu datang kesana. Setelah sampai RSIA gue daftar ulang dan kemudian dicek berat badan serta tensi darah oleh perawat. Ketika bertemu dengan dokter, dilakukanlah pengecekan rahim dengan menggunakan cara USG transvaginal. USG transvaginal yaitu pemeriksaan organ-organ reproduksi wanita dengan cara memasukan satu alat berbentuk stik sepanjang kurang lebih 7 cm ke dalam vagina. Fungsinya mirip-mirip kamera, stik yang dimasukkan tersebut memunculkan kondisi tubuh dalam bentuk gambar-gambar pada layar monitor. 

Hasilnya? Alhamdulillah kondisi tubuh sehat tidak ada kista maupun miom. Akhirnya dokter memberikan vitamin penambah asam folat aja untuk gue minum setiap harinya. 
Untuk Mas Ian gimana? dokter hanya memberikan secarik surat permohonan untuk pengecekan darah di sebuah laboratorium. Tapi disini dokter juga menyarankan agar melakukan pengecekannya minimal di usia setahun pernikahan. Jika lebih dari setahun belum juga ada kehamilan berarti ada infertilitas. Oke fine, kami ikuti aja saran dari dokter hitung-hitung masa pacaran kami diperpanjang.

Fyi, ini gambar USG Transvaginal, gue ambil dari google :



Info harga : 
Kebetulan alhamdulillah gue dapat fasilitas asuransi dari kantor mas Ian jadi gak bayar untuk biaya perawatan (USG) tapi kalau vitaminnya harus bayar sekitar Rp. 150.000 - Rp. 200.000.


Waktu terus berjalan....
Setelah itu sampailah di usia 8 bulan pernikahan gue dan Mas Ian. Gue dan dia merasa enjoy aja, tapi seperti penasaran di hati "kok belum yaa? apa dokter yang sebelumnya salah?". Gue browsing lagi di internet untuk tahu kira-kira pengecekan apa yang harus dilakukan selain USG, ternyata ada yang namanya HSG. Apa itu HSG? HSG adalah pemeriksaan saluran indung telur di tuba falopi apakah disitu tersumbat atau tidak. Okelah akhirnya kami check up lagi ke dokter. 

Kali ini periksa di sebuah klinik yaitu Klinik Keluarga Jakarta Timur. Dokter yang praktek adalah dr. Ika Sri Purnamaningsih, Spog. Info yang didapat, beliau selain praktek di Klinik Keluarga Jakarta Timur, juga praktek di RSIA Tambak. Baiklah akhirnya gue dicek lagi sama seperti pengecekan pertama di RSIA Hermina Jatinegara, kali ini USG di perut dan USG Transvaginal. Hasilnya alhamdulillah normal, bebas dari kista maupun miom. Gue penasaran kenapa normal tetapi belum juga hamil.  Udah gitu gue ga dikasih obat maupun vitamin. Dokter bilang "untuk apa diberi obat/vitamin kalau hasilnya normal? Perbanyak berdoa dan perbanyak pacaran". Gue juga sempat bertanya mengenai HSG tapi info dari beliau belum perlu, saran beliau jika sudah lebih dari setahun menikah saja untuk pengecekannya. Untuk Mas Ian bagaimana? sama seperti dokter sebelumnya. So akhirnya kami pulang lah ke rumah.

Merasa makin penasaran, akhirnya gue mulai cek-cek di internet kira-kira apa saja yang bisa dilakukan supaya bisa hamil selain ke dokter. Gue merasa badan guelah yang ga beres karena kan biasanya kesalahan terbesar mengapa belum hamil yaa kebanyakan karena wanita, padahal bisa jadi prianya. Gue mikir, orang lain mana mau tau sih. Mereka merasanya ya gue lah sebagai wanita yang bermasalah. Padahal kan belom tentu. Sampai bosan ditanya sana-sini mengenai kehamilan. Mas Ian? santai aja karena yang ditanya itu gue bukan dia, yang diberi 'wejangan' pun kebanyakan gue, Hahaha. Tapi untungnya gue tipe orang yang gak terlalu baper-an (dibawa perasaan), jadi ya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan aja. 
Balik lagi ke hasil pencarian di internet mengenai "cara apa saja yang dilakukan agar bisa hamil", yaitu gue dan Mas Ian harus mengonsumsi kurma muda dan buah zuriat (selain itu ubah pola makan). Okelah langsung beli.

Gue dan Mas Ian mengonsumsi kurma muda dan buah zuriat. Selama kami mengonsumsi kurma muda dan buah zuriat, kami sempat ditawari untuk diurut  peranakan (diurutnya di daerah Depok). Yasudah ikuti aja namanya juga usaha hehehe. Gue dan Mas Ian sempat diurut hanya 2 kali saja. Setelah 2-3 bulan konsumsi kurma muda dan buah zuriat, kami belum juga diberi tanda-tanda kehamilan.  Baiklah berarti Allah belum percaya gue dan Mas Ian untuk menjadi orang tua, gitu aja sih mikirnya.

Gue 
menikah tanggal 5 Maret 2017 dan akhirnya sekarang sudah ganti tahun, artinya sudah setahun usia pernikahan. Kalau belum hamil sedangkan gue udah cek kesehatan dinyatakan normal, berarti gantian Mas Ian yang harus cek atau gue mau coba untuk HSG. Okelah kita pergi ke RS Premier Jatinegara untuk cek lagi, kali ini berdua yang diperiksa. 

Kenapa ke RS Premier Jatinegara? Gue dapat rekomendasi dari salah satu teman yang juga pernah berobat disana karena sudah 3 tahun belum hamil dan dia berhasil. Gue melakukan USG transvaginal untuk yang ketiga kalinya, penasaran aja kali-kali ada perubahan. Tapi alhamdulillah keadaan masih normal. Daaaaan Mas Ian akhirnya diminta untuk cek sperma di laboratorium RS Premier. Jadi cek sperm ini ada persyaratannya yaitu sebelum diambil spermnya, suami  tidak diperbolehkan berhubungan badan dengan pasangannya selama lima hari. Okee setelah persyaratannya sudah kami kabulkan, akhirnya mulailah Mas Ian cek sperm. Ini pengalaman pertama banget. Hasil laboratorium diambil dua hari setelahnya, dan hasilnya adalah Mas Ian terindikasi Oligo Astheno Zoospermia.

Oligo Astheno Zoospermia itu apa?
Adalah jumlah sperma yang dihasilkan kurang (Oligo) dan pergerakan sperma kurang baik (Astheno).

Dari situ gue mulai lebih konsen ke kesehatan Mas Ian, alhamdulillah ketahuan kan. Mas Ian memang perokok aktif, sehari bisa sampai satu bungkus rokok yang dihisap. Dari sebelum pacaran, dia sudah merokok. Jujur aja dari dahulu kami sering bertengkar karena rokok. Dan gue rasa hasil laboratorium ini juga karena dampak dari rokok. Selain rokok, dia intens minum kopi. Biasanya satu hari bisa minum kopi hitam + gula sebanyak 2 gelas. Ini buruk banget, jadi jangan pernah diikuti ya guys. Dari dokter pertama sampai dokter terakhir ini, sudah gue sampaikan agar stop merokok, bahkan dari sebelum menikah. Tetapi namanya juga cowok yaa, gak merokok rasanya asam. Apalagi pekerjaan Mas Ian yang bisa membuat dia stress, jadilah pelariannya rokok, katanya untuk hiburan. 

Kadang gue mikir kenapa disekeliling gue orang yang merokok baik-baik saja kondisi badannya dan bisa cepat punya anak, ternyata memang benar tubuh manusia satu sama lainnya berbeda. Mungkin saja efek rokok yang dihirup Mas Ian berimbas ke kesehatan reproduksinya, tetapi belum tentu dengan orang-orang lain di luar sana. Bisa saja orang lain itu merasakan dampak rokok ke kesehatan jantung, paru-paru, lambung, dan lain sebagainya. Tapi bodo amat sama mereka, yang terpenting Mas Ian bisa normal bagaimana ya caranya....

Akhirnya gue dan Mas Ian bertemu dengan dr. Fransiscus Putuhena, Spog di RS Premier Jatinegara untuk membaca hasil laboratorium tersebut. Berhubung dr. Frans merupakan dokter obgyn jadi beliau menyarankan kami ke dokter urologi atau andrologi supaya dideteksi kenapa Mas Ian bisa terkena Oligo Astheno Zoospermia. Mas Ian akhirnya mulai mengurangi rokok dan pelan-pelan berhenti.

Gue 
cari lagi donk di internet kira-kira dokter yang rekomen siapa dan di RS mana. Setelah itu gue dapat rekomendasi yaitu dr. Indra Gusti Mansyur, SpAnd. Beliau praktek di beberapa rumah sakit, tetapi yang gue tahu letak salah satu rumah sakitnya yaitu RSIA YPK Menteng dan RSIA Sayyidah. Baiklah akhirnya kami kesana dengan membawa beberapa history kesehatan kami yang sudah ada. Dokter Indra menjelaskan bahwa akan ada pengecekan selanjutnya seperti cek hormon (dengan cara pengambilan sample darah Mas Ian) dan USG Testis (untuk pengecekan apakah ada pembengkakan pada varikokel). Gue ga dicek lagi karena fokus ke mas Ian.

Mas Ian pun menjalankan pengecekan hormon di RSIA Sayyidah dan USG Testis (USGT) di RSIA YPK Menteng. Kenapa ga salah satu dari RS saja? Karena kebetulan di RSIA YPK Menteng di tahun 2018 ini belum bisa cek hormon. Jadi lah melakukan pengecekan di beda rumah sakit, walaupun begitu tetap dokternya sama yaitu dr. Indra G Masyur. Selain itu ada beberapa pantangan dalam makanan.

Fyi saja ya, gue informasikan harga di RSIA YPK Menteng* dan RSIA Sayyidah, siapa tau ada yang butuh buat hitung budget promil.

*Note : untuk harga di RSIA YPK Menteng ntar gue update lagi ya karena lupa naro kwitansinya dimana hehehhehe.

                                        




Hasil pengecekan USGT, alhamdulillah Mas Ian normal dan tidak ada varikokel. Apa itu varikokel?
Varikokel adalah pembengkakan pada pembuluh darah vena dalam skrotum. Saat terjadi varikokel, pembuluh darah vena tersebut tampak seperti cacing. Kondisi ini serupa dengan varises pada tungkai. Karena sudah tau hasil USGT, Mas Ian aman/normal, jadi mari lihat hasil laboratorium cek hormonnya.

Ternyata Mas Ian memiliki hormon wanita lebih dominan dibandingkan dengan hormon pria-nya. Waw... Jujur aja gue juga baru tau ternyata bisa begini. Jadi itulah salah satu yang menyebabkan Oligo Astheno. Bagaimana ya biar normal kembali? Yaaa ikuti treatment dari dokter dan pastinya harus benar-benar ubah pola makan. Akhirnya dr. Indra memberikan obat-obatan untuk diminum Mas Ian dalam waktu sebulan. Jika sudah sebulan kami harus cek kembali hormonnya dan cek  sperm ke laboratorium. Ini dilakukan harus berulang kali. Kami ikuti kira-kira dua hingga tiga bulan berjalan treatment dan pengobatannya. Tapi tiba-tiba Mas Ian berhenti konsumsi obat yang diberikan dari dokter dikarenakan Mas Ian harus dinas kerja di luar kota kira-kira sebulan lamanya. Fiuh..

Setelah pulang lagi ke rumah, gue coba ajak mas Ian untuk cek ke dr. Boyke Dian Nugraha. ini gue dapet rekomen dari tetangga gue karena dia pun sempat berobat kesitu selama beberapa lama dan akhirnya bisa punya anak. Kebetulan Kliniknya dekat dari rumah yaitu di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Akhirnya gue dan mas Ian coba lah kesana. Awalnya cek keadaan hormon dan USG abdomen. Setelah itu diberikan treatment yaitu terapi Bio, Magnetik, dan Aromatik. Selain itu tetap diberikan multivitamin dan beberapa obat. 

Foto bersama dr. Boyke Dian Nugraha :






Tetangga gue rutin berobat, karena mereka selalu ada di rumah. Lah kalau gue n mas Ian kan lebih sering LDM-an (Long Distance Marriage) karena mas Ian harus kerja ke luar kota. Ketika Mas Ian kerja keluar kota, dia tidak diperbolehkan kantor untuk mengonsumsi obat karena akan berpengaruh dengan pekerjaannya (maklum yaa orang lapangan). Yasudah akhirnya stop minum obat dan setelah balik ke Jakarta, dia mulai konsumsi obat lagi, otomatis konsul ke dokter pun mundur waktunya. Gue merasa kurang efektif kalau begini caranya. So, akhirnya gue memutuskan untuk berhenti sementara waktu treatment dan pengobatan ini sampai nanti, gak tau kapan mulai lagi hehehhe.

Aniway, beruntunglah  pasangan suami istri lain yang dengan mudah mendapatkan keturunan. Tidak perlu susah-susah usaha menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk cek ke dokter. Jadi bersyukurlah yaa guys akan pemberian Allah SWT. Gue dan Mas Ian tetap selalu bersyukur, dibalik (yang menurut kami) cobaan, pasti akan ada kebahagiaan yang lebih besar, aamiin. Kadang pernah bertanya pada diri sendiri “kenapa kami yang begini?” tapi itu pas lagi capek setelah bekerja atau pas lagi PMS hahahha, nah pas udah cukup istirahat mah biasa aja. Manusiawi lah yaa.

Disisi lain, sudah lebih dari setahun kami menikah dan belum punya anak, makin banyak pula orang bertanya ke kami “sudah hamil belum? Kok lama ya?” Dari yang awalnya risih sampai kebal kuping maupun hati ditanyain beginian terus. Tetapi selalu gue dan Mas Ian jawab “belum, doakan yah semoga cepat hamil, aamiin”. Mereka pun menjawab “aamiin.."
Kenapa gak aku ‘semprot’ aja yaa? Well, karena males aja menjawab orang yang ga tau akan usaha kami di belakang layar hahahha. Jadi mending minta doanya aja, makin banyak yang mendoakan insya Allah lebih cepat diijabah Allah SWT. Aamiin.

Lalu menyesalkah gue menikah dengan Mas Ian? Sama sekali engga, gue malah mikir gimana jadinya gue ya kalau gak ketemu Mas Ian dulu-dulu. Gue tuh happy banget bisa menjalani berdua santai begini. Alhamdulillah Allah kasih kekuatan. Belum punya anak bukan berarti dunia hancur lebur kan? Insya Allah nanti akan ada waktunya, so tenang ajaa.


Oktober 2018 Gue dan Mas Ian memutuskan untuk merenovasi rumah. Kami berpikir mungkin Allah meminta kami untuk membangun rumah terlebih dahulu sebelum punya keturunan. Jadi kalau nanti sudah ada anak, anaknya bisa lebih nyaman. Begitu lah kira-kira kami berpikirnya, lempeeeeeng aja heheheh (maklum yak suami gue cowok banget, jadi mikirnya lurus, nyantai, tapi Insya Allah pasti). Akhirnya gue dan Mas Ian fokus ke rumah. Oh iya untuk cerita kami mengenai rumah atau tempat tinggal bisa cek aja ya di postingan selanjutnya. Cekidot.... :D



Kamis, 31 Mei 2018

Karir - Keuangan

 Alhamdulillah hingga saat ini gue masih dikasih Allah amanah untuk bekerja. Dari jaman gue masih kuliah, gue dapet kerja freelance sampai akhirnya jadi karyawan sampai sekarang. Kerjanya sih pindah-pindah gak cuma satu tempat aja. Dulu Mas Ian pernah gue tanyain mengenai kerja, kalau kami jodoh dan sudah menikah, Mas Ian maunya gue bagaimana? Dia jawab gue boleh kerja atau gak kerja, pokoknya terserah gue. Kalau gue memutuskan untuk kerja, dia mau nya gue tetap tanggung jawab mengenai kerjaan rumah (maksudnya ngurusin kebutuhan dia dan anak). 


Oke lah berhubung gue belum punya anak, alhasil saat ini gue masih jadi karyawan. Gue sengaja ambil kerjaan yang ga jauh dari rumah dan jam kerjanya pun asik (yaitu jam 09.00-17.00 wib). So, gue merasa aman, karena ketika suami gue berangkat kerja, gue masih ada di rumah dan pas suami gue pulang kerja, gue pun udah ada di rumah. Kebetulan suami gue kerja di daerah Jakarta Selatan jadi kira-kira sampai rumah paling engga abis maghrib atau isya. 

Oke kita cerita pengalaman kerja gue yaaa. Dulu dari pas kuliah semester dua gue udah pernah ngerasain kerja di beberapa tempat, statusnya sih masi freelance salah satunya gue jadi tutor/guru Bimbel anak SD dan SMP. Kenapa gue mencoba itu? alasan pertama karena gue bingung libur sebulan ngapain di rumah, hahaha. Alasan kedua, gue kan kuliah jurusan psikologi (lebih ke psikologi pendidikan dan perkembangan), jadi buat latihan gue aja untuk mengenal karakter orang dari segi pendidikan dan perkembangannya. Alasan ketiga, biar gue dapet uang lebih, hahah, secara libur kuliah daripada tongpes (kantong kempes) mending gue cari duit. Dan alhamdulillah hikmah kerja pada saat itu menjadi bekal gue buat kerja di tempat selanjutnya. Untuk pengalaman kerja ketika kuliah bisa lo baca postingan gue beberapa tahun ke belakang kayak contohnya disini.

Untuk selanjutnya setelah gue lulus kuliah. Dulu waktu awal-awal gue lulus kuliah, gue jabanin kerja dimana pun selama masih di Jakarta. Pengalaman kerja 'beneran', yess kerja beneran hahaha, gue kerja di daerah deket Roxy, Jakarta Pusat. Perusahaan retail punya 88 kantor cabang dan 1000an toko penjualan kebutuhan rumah tangga se-Indonesia. Gue kerja di kantor pusat nya. Gue ada di bagian Human Resources. Berangkat dari rumah jam 06.30 masuk kerja jam 08.00-17.30 dan pulang sampai rumah sekitar jam 19.00 karena macet. Masuk hari Senin sampai Jumat, kadang Sabtu masuk setengah hari. Itu gue menikmati dengan senang hati walaupun capek ya tapi gue happy banget.

Ada pengalaman yang tidak akan gue lupakan pada saat gue kerja di kantor ini. Gue berangkat dari rumah naik motor. Ketika musim hujan tiba di tahun 2013 awal, gue merasakan gimana rasanya naik motor hujan-hujanan dan banjir dimana-mana. Gue lewatin Senen, Tugu Tani, sampai Monas itu kerendem air. Ya Allah. Gue dalem hati ngomong "susah yah cari duit, dulu gue menghambur-hamburkan duit bokap gue ternyata ini kerja aja sampai lewatin badai dan hujan". Sampai di depan Istana Merdeka motor gue dan motor beberapa orang mogok karena tingginya volume air. Ya Allah gue ampe mau nangis tapi malu. Dalam hati gue ngomong lagi "ah gue kan ada temen mogok, jadi ga usah nangis". Berhubung gue ga bisa nyalain mesin motor pake kaki (gue bisanya starter dari tangan), jadi alhamdulillah gue ditolong bapak-bapak untuk menyelah motor pakai kaki. Kata beliau, gue disuru tunggu sebentar supaya mesin motor hangat dahulu, setelah itu baru jalan lagi. 

Di kantor ini teman satu ruangan gue lumayan banyak. Gue kan di HRM (Human Resources Management), gue fokus di bagian pengadaan training. Bagian Training ini sendiri aja satu tim ada tujuh orang. Kalau di HRM sendiri ada sekitar 25-an orang. HRM ini terdiri dari Training, Recruitment, Personalia & Evaluation, Payroll, dan General Affair. Jadi yaa rame dan menyenangkan. Orang-orangnya juga baik-baik walaupun kadang ada yang menyebalkan yaaa gapapa lah yaa namanya juga kerja. Kalau pas hari Sabtu masuk, gue dan temen-temen HRM suka main masak-masakan hahahha. Di kantor ini ada peralatan masak jadi ya kayak main aja. Kerja sambil main. Hari sebelumnya dibagi-bagi harus bawa apa saja untuk dimasak, jadi pas hari Sabtu tinggal eksekusi.

Selain dari temen HRM, gue juga kenal dan dapat temen dari divisi lain. Kok bisa kenal? Mungkin karena gue dari divisi Training yang kerjaannya keluar masuk ruangan jadi gak asing sama muka gue. Apalagi ibu-ibu di kantor gue suka 'dagangin' anak-anak muda kayak gue dan Ririn ke cowok-cowok muda di divisi lain, jadi heboh lah suka jodoh-jodohin. Tapi gue ambil enaknya aja, ibu-ibu itu suka nasehatin gue dan perawan-perawan lain mengenai gimana nanti berumah tangga, mengenai dalam bersikap, dan lain-lain. Kalau untuk pertemanan, disini top lah orang-orangnya.

Lalu mengenai kerjaannya, gue merasa kerja disini sebagai batu loncatan gue atau pengalaman awal gue. Walaupun sebelumnya gue juga pernah kerja di perusahaan lain, tapi kan dulu gue engga seserius sekarang. Disini gue bener-bener belajar dunia HRD alhamdulillah. Truss untuk gajinya alhamdulillah gue merasa sangat cukup digaji segitu untuk ukuran fresh graduate tapii emang lucu karena kadang gaji suka dipotong kalau ga masuk kerja tanpa keterangan, trus pernah juga gue dan karyawan lain dapet  buku agenda tapi gajinya dipotong Rp 25.000 hahahhaa. Ajaib kan?  makanya gue akhirnya resign. Hahaa gak deng masa cuman karena duapuluhlimaribu aja sampe resign, intinya gue resign karena mau cari yang lain dan merasakan kerja di tempat lain kok. Disini kan kantornya berbentuk ruko, jadi gue kepengen banget ngerasain ngantor di gedung bertingkat.

Ini ada beberapa foto yang bisa gue share ketika gue kerja di kantor ini : 

Ini orang-orang HRM lumayan lengkap tapi belum semua

Acara makan bersama setiap Sabtu

Empat sekawan

Masak dan makan bersama Sabtu

Ini hanya beberapa orang aja dari HRM


Kenang-kenangan pas resign


Abis resign dari situ gue dapet kerja lagi perusahaannya Pak Harry Tanoesoedibjo di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Jadi CEO Pusat nya Pak Hary Tanoe sedangkan CEO di kantor gue Pak RB atau Reino Barack. Kantor ini bidangnya juga retail sama seperti kantor sebelumnya tapi berjualannya lebih ke e-commerce dan iklan di TV. Yeaaay alhamdulillah keinginan gue terkabul yaitu gue bisa ngantor di gedung tinggi hahaha. Jarak dari rumah lebih dekat dari kantor sebelumnya, yaaa setengah perjalanan dari kantor sebelumnya lah. Kalau sebelumnya di deket Roxy kalau ini deket Tugu Tani, tapi tetep pulangnya mirip-mirip kayak kantor sebelumnya, sekitar abis maghrib baru sampe rumah. Disini gue juga di bagian HRD tapi fokus ke dua hal yaitu Training dan Recruitment. 

Di ruangan HRD kantor ini lebih sedikit orang-orangnya. Jadi memang ga begitu rame dari kantor sebelumnya. Gue merasa disini gue kayak disegani sama karyawan lain hahah. Sebenarnya kurang enak sih jadi kayak jaim gitu gue jadinya. Tapi pengalaman baiknya, gue jadi tau mengenai Departemen Produksi. Di kantor gue yang sebelumnya kan gak ada. Di Produksi itu isinya ada jabatan Producer, Artist, PA, Cameraman, FD, Audioman, Lightingman, MCR, sampe ke Wardrobe. Jadi itu hal baru sih dan menyenangkan. Gue malah berkeinginan pindah Departemen.

Ini ada beberapa foto yang bisa gue upload di sini : 


Jobfair di MNC Tower

Ultah kantor gue, yg lagi ngomong Pak RB


Studio

Gue yang jilbab ungu, coba cari :D




Begitu lah cerita beserta dokumentasi yang masih tersisa di file guee.


Nah menjelang menikah, gue berdoa sama Allah supaya gue dapet rejeki kerja yang gak jauh-jauh banget jaraknya dari rumah. Sebenernya sih selama ini jaraknya masih aman, tapi kalau masih ada yang lebih dekat kenapa engga? Toh impian gue untuk kerja dimana pun selama di Jakarta sudah terkabul, kerja di gedung bertingkat juga sudah terkabul, lalu apa lagi? heheheh. Gue akhirnya berdoa sama Allah supaya gue dapet kerja lebih dekat, santai, dan bos yang baik, Alhamdulillah doa gue diijabah Allah.

Gue ditawarin kerja sama temen bokap gue. letaknya dari rumah dekat dan lumayan santai. Kerjanya juga dari jam 09.00-17.00. Dan yang lebih betah lagi, boss gue baik bangettt. Gue selama kerja dapet bos baik tetapi bos disini lah yang paling baikk. Karena udah gue anggep kayak bokap sendiri. Yaudah tanpa bak-bik-buk gue terima aja kerja disini. Kerjaan gue disini juga ga terlalu jauh dari Training, jadi yaudah pass banget donk. Trus prioritas gue kan juga jadi istri solehah, kerjaan hanya buat hiburan doank jadi yaudah jalanin aja. Heheheh. Kerja disini lumayan yah buat buibu yang memang mau berkarir dan berumah tangga.

Selain kerja di sini, gue pun mulai kepikiran untuk jadi pengusaha. Siapa tau nanti kalau gue udah ribet sibuk sama keluarga, gue jadi ga bisa kerja di tempat orang. Ga ada waktu lah yaa. Mau ga mau gue harus punya usaha donk. Gue mulai berjualan online semoga aja usaha gue ini berjalan baik dan lancar, aamiin yra.

Walaupun Mas Ian gak mempermasalahkan gue musti kerja atau gak, gue emang berinisiatif tetep mencari nafkah. Walaupun buat gue sendiri hasil/uangnya, tapi tetep lah gue kepengen menghasilkan. Gue kan gak tau kedepannya gimana, yang penting sekarang selama gue bisa kerja / usaha ya gue lakuin aja semampu gue. Trus gaji mas Ian gimana kan dia kerja juga? Yaa gaji dia mah tetep gue yang pegang hahahaha tapi yaudah itu buat kebutuhan sehari-hari donk. Gue istrinya, yaa gue juga yang jadi menteri keuangannya :p 

Jadi yaudah jalanin aja, bismillah dan terus berjuang... :)