Sebenernya udah ada planning untuk ke Semarang dari lama banget, apalagi pernah punya pacar asli Semarang (si Kebo) jadi nambah yakin deh mau main kesana. Padahal kalau mudik pun juga suka lewat Semarang via darat tapi lewat doank engga mampir jalan-jalan. Yaudah yuk lah main ke Semarang, belilah gue tiket kereta dari Jakarta ke Semarang langsung pulang pergi. Gue ke Semarang berdua sama Cali, berangkat hari Jumat, 23 Oktober 2015 dan pulang ke Jakarta Minggu 25 Oktober 2015. Sebentar banget kan? Yupz ga perlu cuti karena pergi sengaja hanya weekend aja.
Jumat, 23 Oktober abis pulang kerja, gue pulang ke rumah dulu, mandi dan siap-siap trus gue langsung cuss ke Stasiun Pasar Senen naik kereta ekonomi AC malam ke Stasiun Semarang Poncol, sampai sana Sabtu, 24 Oktober 2015 subuh sekitar jam 5. Trus gue solat subuh, cuci muka, sikat gigi, dan pake parfum di stasiun dan jam 6 pagi langsung ke penginapan. Kebetulan gue udah booking penginapan di deket stasiun Semarang Poncol. Penginapan gue namanya Hotel Olympic, dari stasiun jalan kaki sampe. Disana gue cuma titip barang aja trus langsung cari sarapan. Gue jalan kaki aja dari penginapan menuju Lawang Sewu. Trus dalam perjalanan mampir sarapan di warung kaki lima.
Stasiun Semarang
Ruangan penginapan, sengaja ga dikasi watermark soalnya dapet dari booking.com
Sarapan tahu gimbal Semarang
Setelah kenyang makan dan minum, gue lanjut jalan kaki ke Lawang Sewu. Lumayan juga jalan kaki itung-itung jogging hehehe. Akhirnya sampailah gue ke Lawang Sewu, ternyata disana rameee karena ada event gitu jadi ga kerasa horror hehhe.
Sekedar informasi, Lawang Sewu ini adalah gedung bersejarah berasal dari bahasa Jawa yang artinya lawang = pintu dan sewu = seribu jadi gedung Lawang Sewu yaitu gedung yang memiliki seribu pintu, tapi bener gak yah ada seribu pintunya? ternyata engga. Maksudnya seribu pintu disini adalah banyak pintunya dan jendela yang menyerupai pintu (gede-gede jendelanya). Dulu bangunan ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api Belanda sekaligus menjadi saksi dari pecahnya perang antara Jepang dengan pemerintahan Indonesia. Setelah itu Lawang Sewu dikembalikan kepada Pemerintah Indonesia dan menjadi kantor PT. Kereta Api Indonesia, that's why ada miniatur/replika lokomotif di depan gedung utamanya.
Nah cerita yang gue tau, dulu tuh Lawang Sewu akhirnya ditetapkan pemerintah setempat menjadi salah satu bangunan kuno dan bersejarah yang patut dilindungi, trus akhirnya kayak dilupakan gitu deh keberadaannya, jadi gak keurus dan rusak di beberapa tempatnya, makanya kan banyak cerita horror gitu mengenai gedung ini. Akhirnya beberapa tahun kemudian mulai terekspos lagi trus direnovasi dan dibuka kembali untuk umum.
Tiket masuk ke Lawang Sewu Rp. 10.000/orang untuk dewasa kalau anak-anak atau pelajar Rp. 5000. Jam bukanya mulai 07.00 - 21.00 wib.
Cekreek.. Padahal blm mandi yaudah yaa
Rameee kan di bawah sana, karena ada event gitu
Lokomotif
Setelah puas foto-foto dan berkeliling Lawang Sewu, akhirnya gue dan Cali mengunjungi ke tempat selanjutnya yaituuu Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini keren banget arsiteknya. Disini, pengunjung yang datang tidak hanya orang Tinghoa atau orang yang akan beribadah, tetapi untuk umum. Tempat ini rekomended banget buat tempat wisata.
Salahnya gue, kemari pas siang-siang jadi panas banget. Tapi emang gak bohong, ketika masuk sini suasananya tuh bener-bener kayak di China (kayak udah pernah aje lo Yas kesana -_-a ). Gue disini gak begitu lama, foto-foto, istirahat sebentar, makan siang, dan langsung balik ke penginapan untuk check in dan bebersih.
Setelah selesai semua, gue mulai berkelana lagi abis ashar sekitar jam 15.30-an. Nah disini gue sempet kenalan sama orang Kalimantan yang nginap di hotel ini. Ada sekitar 4 orang cewek-cewek yang lagi main ke Semarang. Mereka bingung mau kemana lagi, akhirnya gue info aja kalau gue mau ke Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Gue nawarin mereka mau ikut apa engga, kalo mau ikut biar carter angkot hahahha. Eh pada mau, yaudah bagus. Jadi ada temen patungan. Mesjinya kalo liat di googlemap, agak jauh letaknya dari penginapan gue.
Mesjid Agung Jawa Tengah - Semarang (MAJ) ini memiliki bangunan yang megah atau berdiri di lahan kurang lebih 10 hektar (begitu yang gue baca dari google). Di depan bangunan mesjid ini ada serambi yang mirip dengan bangunan mesjid Nabawi jadi keren banget dan di dekatnya pun ada menara yang sangat tinggi. Menara ini disebut menara Asma'ul Husna (artinya 99 nama Allah yang baik). Kenapa namanya itu? karena menara ini memiliki ketinggian 99 meter jadi kalau kita ke atas sana, dapat melihat keindahan kota Semarang dari atas situ. Biaya masuk ke menara ini yaitu Rp. 5000. Selain bisa melihat pemandangan kota Semarang dari atas menara itu, kita juga bisa mampir ke Museum Islam yang letaknya di menara. Di dalamnya akan disuguhi peninggalan Islam pada jaman dahulu. Bagus banget yaa Masya Allah.
Nah ini dia teman-teman baru dari Kalimantan yang ketemu di penginapan Semarang
Ini menara MAJ yang ga jauh dari Mesjid
Mesjid dilihat dari menara MAJ
di atas menara ada teropong yang bisa lihat lebih dekat
Setelah sholat Magrib di Masjid ini, gue dan Cali akhirnya meninggalkan mesjid ini. Lanjut kita cuss ke Toko Oen yang legendaris. Gue naik taksi ke Toko Oen, disana ternyata ada temennya Cali. Yaudah sekalian aja makan dan ketemuan disana. Nah pas di Toko Oen ini batre hape gue habis jadi gue gak bisa foto-foto, gue jadinya ambil foto di google aja yaa (spesifiknya gue ambil dari web : http://biasputih.com/ ). Disini gue makan yang ga berat-berat heehhe kayak kue-kue dan es krim.
Penampakan depan
Penampakan di dalamnya
Jadi Toko Oen ini menurut yang gue tau merupakan restoran legendaris. Menu masakannya yaitu makanan dari Indonesia, Cina dan Belanda. Kalau gak salah, Toko Oen ga cuma ada di Semarang aja deh tapi ada dibeberapa kota besar lainnya. Bangunannya itu kuno, klasik, tapi tetap asik. Walaupun begitu, yang datang dan menikmati makanan disini gak hanya orang tua tapi muda mudi juga banyak.
Untuk yang mau berkunjung ke Toko Oen Semarang gue kasih tau alamatnya ya..
Jl. Pemuda 52 Semarang 50138
Buka setiap hari Pk. 10.00 - 22.00 wib.
Gue di Toko Oen sampai kira-kira jam 20.00-an. Abis dari sini gue cuss ke Jl. Pandanaran. Disini banyak toko oleh-oleh khas Semarang, jadi jangan lupa mampir yaaaah (ciee dah cocok belum gue jadi marketing wkwkwk). Yaudah gapapa beli sekarang karena besok siang menjelang sore gue kan dah balik ke Jakarta. Setelah puas beli oleh-oleh, gue langsung pulang ke penginapan naik becak bayar Rp. 25.000. Sampai penginapan solat isya, bersih-bersih, dan bobo deh hehehe.
Minggu pagi sekitar jam 09.00 setelah gue sarapan, waktunya gue dan Cali cari spot foto di sekitaran Jl. Letjen Suprapto. Jadi menurut mbah google, kawasan ini terkenal dengan spot foto terbaik di Kota Lama Semarang. Bangunan-bangunan yang ada disini tuh bangunan tua tapi tetep kece buat foto-foto. Sempet gue berpikir, kok banyak banget bangunan tua tapi unik ini, yaa mungkin karena lamanya Belanda menjajah Indonesia, jadi banyak peninggalan-peninggalan yang bersejarah salah satunya di Semarang ini. Dan peninggalan ini semua dirawat oleh orang-orang Indonesia. Beberapa bangunan ini merupakan pusat perekonomian di Kota Semarang jaman dahulu kala.
Ini dia beberapa foto yang bisa gue dokumentasiin.
Gedung MARBA
Gedung Marba salah satu gedung tua (hampir 100tahun) yang terkenal di Semarang. Beberapa film Indonesia salah satunya Film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra sempat menggunakan gedung ini untuk latar belakangnya. Selain film, ada beberapa iklan yang menggunakan gedung ini juga untuk keperluan syutingnya. Menurut yang gue baca di internet, gedung ini dulunya digunakan untuk gedung pelayaran, sayang banget denger-denger sekarang gedung ini malah buat gudang. Oiya MARBA sendiri merupakan kepanjangan dari Marta Badjunet. Siapakah itu? beliau merupakan orang asli Yaman dan saudagar kaya pada jaman dahulu.
Gereja Blenduk
Gereja Blenduk
Gedung Jiwasraya yang letaknya di seberang Gereja Blenduk
Nah foto di atas adalah gedung Gereja Blenduk nama aslinya Nederlandsch Indische Kerk. Berhubung susah disebutnya, jadi masyarakat menyebutnya dengan Gereja Blenduk. Blenduk sendiri maksudnya karena bentuk yang unik karena terdapat kubah yang 'mblenduk' seperti kubah masjid bewarna merah bata. Pas gue lagi berkunjung kesini, kebetulan banget lagi rame, mungkin lagi ada ibadah Minggu. Jadi gue ambil fotonya dari seberang Gereja dan gue hanya foto bagian atas. Kalau difoto dari agak kejauhan, banyak mobil yang parkir atau berlalu lalang. Diseberang Gereja Blenduk ada Gedung Jiwasraya yang sempat gue foto juga.
Di komplek ini terdapat pula restoran terkenal namanya IBC atau Ikan Bakar Cianjur. Kebetulan gue engga masuk situ untuk nyobain makan, karena ketika gue datang, kebetulan belum buka restonya.
Ada beberapa gedung tua lainnya yang masih terawat dan tidak terawat di daerah ini. Tapi walaupun begitu, itulah seninya untuk foto-foto. Salah satunya gedung Pabrik Rokok Praoe Lajar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Selain gedung-gedung tua, disini ada beberapa becak yang mangkal sampai berlalu lalang yang bisa menambah keren foto-foto para pelancong, kesannya bergaya vintage gitu lhooo.
Setelah puas berfoto ria disini, gue balik ke penginapan dan istirahat sebentar sebelum check out. Tepat abis dzuhur kita siap-siap pulang ke Jakarta. Sebelumnya gue beli lumpia dahulu untuk dibawa ke Jakarta dan setelah itu cuss lah ke Stasiun Semarang. Gue mampir makan siang juga di dekat-dekat stasiun.
Daaaaan alhamdulillah nyampe Jakarta dengan sehat selamat tanpa kurang apapun. Senin paginya gue masuk kerja. Capek? ya pasti tapi hepi hepi aja gue mah hehehheh.
Ada beberapa foto ini gue taruh di sosmed trus dek Algita (adiknya Kebo) langsung ngehubungin gue. Dia menyayangkan gue karena gak ngehubungin dia atau keluarga ketika gue di Semarang. Kan bisa ketemu dan jalan bareng. Heheheh ternyata keluarganya masih care sama gue sampe sekarang. Ga nyangkaa. Yaa mungkin belum waktunya aja gue ketemu lagi, mungkin next time.
So, mau ngebolang kemana lageee kitaaah? :D








































